Saturday, March 18, 2017

Perjalanan Mudik Paling Berkesan. (Serba Serbi Mudik, 2012)

Event menulis berikutnya yang aku ikuti bertemakan 'mudik'. Selain cerpenku, ada juga cerpen Mama yang ikut dimuat di dalam buku ini. Kami dan para penulis lainnya sama-sama bercerita tentang suka duka yang pernah dialami saat mudik lebaran. ^^


Perjalanan Mudik Paling Berkesan

Berkesan, tak selamanya berarti kenangan yang indah. Berkesan yang kumaksud disini adalah, suatu hal yang bagiku paling mengerikan yang pernah terjadi dalam hidupku. Berikut kisahku.
Usiaku saat itu baru menginjak 8 tahun. Beberapa hari setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama dengan keluargaku di kota Makassar, aku dan keluarga pun mudik ke kampung halaman kami yang masih berada di daerah Sulawesi Selatan. Aku berangkat bersama Mama, Tante, dan juga Omku yang mengemudikan mobilnya. Waktu yang kami tempuh dalam perjalanan itu sekitar tiga, sampai empat jam. Aku merasa sangat senang karena sebentar lagi akan berziarah ke makamnya Papa, dan selain itu aku juga bisa bertemu dengan nenek, dan saudara-saudaraku di kampung halaman.
Setibanya kami di kampung halaman, kami bertemu dengan orang-orang yang sangat kami rindukan. Maklumlah, kami baru sempat ke sana hanya pada waktu lebaran, atau jika ada acara penting saja. Aku pun bisa dengan bebas bermain bersama beberapa Om kecilku di sana. Memang pada saat itu cicit dari nenek uyutku baru 3 orang. Yang pertama aku, dan yang dua lagi cowok. Di tambah lagi dengan beberapa Om kecilku. Walaupun kebanyakan diantara mereka, atau bahkan semuanya adalah laki-laki, aku tetap senang bermain dengan mereka. Hal itupun adalah salah satu yang membuatku tumbuh menjadi seorang anak yang agak tomboy.
Keesokan harinya, ada seorang lagi nenekku, yang juga merupakan adik nenekku dari keluarga Mama, mengajak aku, Mama, Om dan Tanteku untuk makan durian yang kebetulan pada saat itu tengah berbuah banyak di kebun miliknya. Rumah nenekku itu berada cukup jauh, yakni di sebuah daerah yang berada cukup jauh dari wilayah Makassar. Perjalanan yang kami tempuh sekitar dua jam untuk sampai disana. Bila dari Makassar, waktunya bisa sampai setengah hari perjalanan.
Sesampainya di rumah nenek, aku kembali bertemu dengan Om kecilku yang semuanya laki-laki. Sebut saja mereka Iza dan Nunu. Usia mereka berbeda tiga, atau empat tahun dariku. Dan selama berada disana, aku cukup akrab dengan mereka berdua.
Sore harinya, kami diajak berjalan-jalan di kebun milik nenek dan kakek. Kebun itu cukup luas, dan terdapat banyak sekali pohon durian yang tumbuh subur disana. Selain durian, ada juga pohon langsat, dan juga rambutan yang kebetulan pada saat itu tengah berbuah. Mungkin juga saat itu merupakan musim panen, namun kami tetap bisa menyantap buah-buahan tersebut dengan nikmat dan sampai kenyang. Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai ditengah kebun itu cukup menghadapi rintangan, dan menguras tenaga. Ya, kebun yang mereka maksud ternyata lebih mirip seperti daerah hutan yang aku ketahui. Banyak hewan-hewan liar yang masih berkeliaran disekitar kebun itu. Dan bagiku, itu adalah kali pertama aku memasuki kawasan yang seperti itu.
Yang masih kuingat jelas pada saat itu, aku, Mama, Om, Tante, beserta Nenek, Kakek dan kedua Om kecilku (Iza dan Nunu) dengan nikmat menyantap buah durian. Waktu itu, aku juga sempat berkata. “Nenek, durian-durian ini aku bawa pulang ke Makassar ya!” ucapku dengan nada polos, dengan buah durian yang masih penuh di mulutku. Sontak, orang-orang yang berada disekitarku langsung tertawa mendengar kepolosanku itu. Nenek pun menjawab. “Iya dong! Nanti Indah boleh bawa durian yang banyak, buat oleh-oleh untuk nenek dan kakek di sana, Oke?!”
Aku tersenyum ceria, sementara yang lainnya masih tertawa mengingat ucapanku yang tergolong “tiba-tiba” sebelumnya. Memang, ucapanku yang tadi kuucapkan dengan nada yang lantang, sampai-sampai gema dari suaraku terdengar disekitar kebun yang lumayan sepi itu.
Malam harinya, sekitar pukul 10 malam, tiba saatnya pulang kembali ke Makassar. Perjalanan yang kami tempuh akan terasa sangat lama, dan bahkan mungkin sampai subuh. Aku duduk di jok belakang bersama Mama, sementara Tanteku di depan bersama Omku yang mengemudikan mobil. Dan hal yang kumaksud “mudik paling berkesan” tadi pun di mulai di sini.
Aku sedang tertidur nyenyak di jok belakang mobil. Tak berapa lama kemudian, didalam tidurku aku mendengar suara kepanikan yang ternyata berasal dari suara Om, Mama dan Tanteku di dunia nyata. Dan disaat aku mulai membuka mata, tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat keras “Brrkkk”. Aku langsung terjatuh tepat di belakang kursi kemudi mobil. Saat itu aku memang tidak tahu apa yang terjadi. Akupun hanya bisa berteriak dan menangis ketakutan sambil memanggil Mama. Dan Mama pun berusaha untuk mengangkatku kembali untuk duduk di kursi mobil.
Setelah kepanikan itu mereda, aku baru menyadari bahwa ternyata mobil kami masuk ke dalam area persawahan yang cukup dalam. Mobil sedan Omku yang berwarna putih itu pun tenggelam hampir setengahnya. Tak lama setelah itu, masyarakat sekitar pun segera membuka pintu mobil, dan seorang pemuda menggendongku keluar dari area sawah itu. Waktu keluar dari mobil, kakiku sempat menyentuh air di sawah itu. Dingin sekali! Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 4 pagi. Udara dingin masih sangat menusuk tulang. Aku sampai menggigil dibuatnya. Di seberang jalan, badanku di lilitkan handuk tebal oleh Mama. Dan sambil menunggu mobil Omku itu ditarik keluar dari area persawahan, aku, bersama Mama dan Tanteku menunggu di depan sebuah rumah warga, tepat diseberang jalannya. Aku masih ingat jelas saat itu. Walaupun mungkin, sebenarnya aku belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada waktu subuh itu.
Setelah mobil berhasil ditarik kembali ke jalan raya, ternyata mesinnya masih bisa di hidupkan. Kerusakan terjadi hanya pada lampu depannya yang retak, mungkin karena sebelumnya terbentur pembatas jalan. Dan setelah berterima kasih kepada masyarakat sekitar karena telah membantu menarik mobil ke jalan raya, Aku, Mama, Om dan Tanteku masuk ke mobil, dan kami pun kembali melanjutkan perjalanan yang masih akan ditempuh sekitar dua atau tiga jam lagi. Karena masih merasa takut, aku pun tidak berani untuk mencoba tidur lagi.
Namun di tengah perjalanan, secara tiba-tiba mobil Omku itu mogok ditengah jalan. Untung saja, saat itu kami sudah memasuki wilayah Makassar. Setelah diselidiki, ternyata mesinnya mengalami pemanasan. Sampai-sampai keluar asap dari mesin depan mobil. Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami semua pun segera keluar dari mobil. Omku pun memutuskan untuk menelpon petugas mobil yang berada disekitar untuk menarik mobilnya dengan sebuah mobil derek. Setidaknya, untuk sampai ditengah kota Makassar.
Dan setelah mobil derek itu datang, Aku, Mama, Tante dan Omku pun kembali masuk ke dalam mobil. Dan sekitar satu jam kemudian, akhirnya mobil yang kami tumpangi tersebut pun sampai disebuah showroom mobil, yang juga merupakan sebuah bengkel besar. Seingatku, showroom mobil itu berada tak jauh dari rumah nenek. Jadi setelah mobil Omku masuk di showroom itu, Aku, bersama Mama dan Tanteku pun pulang ke rumah nenek dengan mangendarai sebuah taxi.
Sekitar pukul 6 subuh, akhirnya kamipun sampai di rumah nenek. Kakek dan Nenek yang sebelumnya sempat khawatir pun merasa lega karena keadaan Aku, Mama, Om dan Tanteku yang baik-baik saja. Hanya ada sedikit luka benturan di lutut Tanteku yang terbentur laci depan mobil, serta ada juga sedikit trauma dipikiranku. Tapi hal itu tentu tidak membuatku takut akan sebuah perjalanan yang jauh.
Perjalanan balik yang benar-benar penuh rintangan. Sejak pukul 10 malam dari kampung halaman, hingga kami tiba di Makassar, Sulawesi Selatan pada pukul 6 subuh.
Sungguh, perjalanan mudik dan balik yang paling berkesan bagiku. Bahkan hingga saat ini pun aku masih mengingatnya…
*** 

0 comments:

Post a Comment

 

Suara Hatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates