Thursday, July 11, 2013

Semangat mengikuti Lomba Menulis!


Tahun 2007. Pada saat masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar, ada suatu hal yang mengharuskanku untuk meninggalkan pendidikan formal, dan hanya belajar di rumah setelah lulus dari Sekolah Dasar. Beberapa diantara kalian mungkin sudah tahu apa sebabnya. Dan disaat itulah, aku mulai gemar menulis.

Alhamdulillah, berkat dari keisengan mencoba searching lomba menulis di google, serta media sosial seperti facebook dan twitter, telah menghasilkan lima antologi cerpen, satu antologi dongeng, serta sebuah buku kumpulan kisah nyata dari sepuluh orang penulis terpilih yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit nasional di Indonesia.

Berikut kisahku ...

Sejak tahun 2009, tepatnya dua tahun setelah aku lulus dari Sekolah Dasar, aku pun mulai aktif di dunia menulis. Mulai dari menulis di buku harian (Diary), menulis cerpen di buku tulis, atau mengetik apapun di komputer. Sebenarnya sih, aku sudah menggemarinya sejak masih kelas 4 SD. Berhubung juga karena sejak saat itu aku sangat menyukai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Dan sejak beberapa tahun yang lalu, aku pun mulai aktif dan gemar mengikuti beberapa lomba cerpen di facebook. Aku masih ingat, awalnya aku iseng-iseng mengikuti lomba menulis kata motivasi yang diselenggarakan oleh salah satu akun di facebook. Dan ternyata, kata motivasi yang kutulis hanya beberapa baris itu pun terpilih dan berhasil dimuat disalah satu buku antologi dari koordinator lomba tersebut. Judul buku tersebut adalah “Imaginer Embun Pagi” oleh Lavira Az-zahra dkk

Sejak saat itulah, aku mulai mencoba searching di google segalanya tentang lomba menulis cerpen, puisi, maupun novel.

Berhubung juga karena aku punya beberapa stok cerpen yang sudah lama tersimpan dalam file laptopku, seringkali jika ada lomba menulis yang syarat dan ketentuannya baru kubaca, langsung kukirim ke email penyelenggara lomba tersebut. Seperti pada lomba menulis dengan tema “Yuk Mendongeng 2012”, kebetulan aku punya satu cerita dongeng yang beberapa bulan sebelumnya telah selesai kutulis karena terinspirasi dari sebuah cerita di majalah. Daripada hanya tersimpan di file laptop dan tidak ada yang baca, lebih baik aku coba kirim saja ke lomba tersebut. Dan akhirnya, cerpen berupa dongeng itu pun terbit dalam sebuah antologi dongeng berjudul sama dengan nama eventnya.

Lomba ketiga yang aku ikuti adalah event HAS 2. Karena semua tulisan yang masuk akan dibukukan sesuai tema, aku pun mengirim cerpenku ke dua tema dari sekitar lima tema yang ada. Dan sejak Desember 2012 lalu, buku antologi tersebut pun akhirnya diterbitkan. Dua buku yang memuat tulisanku itu berjudul “Sepanjang Rel Kereta” dan juga “Surat Kecil Untuk Ibu”.

Lomba menulis selanjutnya yang aku ikuti adalah event “75 Keajaiban Menulis” dan “Penulis Indie Indonesia” yang diselenggarakan oleh penerbit yang sama. Menulis satu halaman pastinya tidak begitu sulit bagiku. Apalagi temanya yang membuatku seperti kembali ke masa beberapa bulan yang lalu, sejak aku aktif mengikuti lomba menulis. Beberapa bulan yang lalu, kedua buku itu pun sudah terbit, bersama dengan sebuah antologi puisi yang tak dapat ku ikuti. Memang sejak dulu aku sangat lemah dalam hal membuat puisi.

Di lomba menulis berikutnya, aku pun mencoba peruntungan di penerbit mayor. Namun pada akhirnya, setelah cukup lama menunggu pengunguman lomba tersebut, ternyata naskahku tidak terpilih. Mungkin saja karena aku mengirimkan dua cerpen yang halamannya melebihi syarat, atau juga karena ceritanya terlalu remaja, sedangkan penerbit tersebut hanya menerbitkan buku untuk anak-anak. Apa boleh buat? Terpaksa aku hanya bisa menelan kekecewaan. Namun hal itu tak membuatku lantas patah semangat untuk terus mencari peruntungan di dunia menulis yang sudah lama kuanggap sebagai dunia keduaku ini.

Pada lomba menulis selanjutnya, berupa cerpen FTS yang kebetulan aku temukan juga di facebook. Aku kembali mencoba untuk mengirim cerpenku yang berupa true story. Tapi ternyata, mungkin karena tidak memenuhi syarat, cerpen tersebut pun tidak masuk dalam daftar cerpen yang terpilih. Meskipun pahit, pil itu harus berusaha kutelan. Namun tetap, aku tak akan menyerah untuk terus menulis.

Meskipun pada lomba tersebut aku gagal, namun aku tidak patah semangat. Justru karena itu, aku pun terus mencari lomba menulis lewat berbagai media di internet. Yang aku fokuskan adalah cerpen, karena menulisnya tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Sedangkan untuk puisi, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak begitu mahir dalam pembuatannya.

Beruntung juga, karena dari kegagalan tersebut, aku pun mencoba lagi untuk mengirim cerpen yang sebelumnya bisa dibilang “gagal” itu ke sebuah lomba menulis FTS yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit nasional lewat twitter beberapa bulan yang lalu (2012). Dari lomba tersebut, alhamdulillah naskahku terpilih, dan akan diterbitkan bersama sembilan cerpen dari penulis terpilih lainnya. Omnibook tersebut berjudul “Waktu Yang Mengubahmu”. Nonfiksi & True Story Book, yang sudah bisa didapatkan di toko buku.

Dari setiap lomba menulis yang aku ikuti, secara tak langsung memberiku semangat untuk terus berkarya. Meskipun hanya di rumah dan dalam keadaan fisik yang terbatas, aku tetap berusaha untuk bisa mengukir prestasi dibidang menulis. Baik itu lewat cerpen, dongeng, kisah nyata/true story, atau apapun yang bisa kutuangkan dalam tulisan. Baik itu di buku, maupun di software word di laptopku. Aku pun menyadari, naskah yang ditolak bukan berarti naskah yang gagal, dan tak bisa lagi diandalkan, atau dalam kata paling menyakitkan yaitu “sampah”.

Bukan seperti itu, karena sebuah kegagalan adalah awal dari sebuah kesuksesan yang ‘hanya tertunda’. Aku bisa menggunakan dan mengandalkan naskah yang belum terpilih itu lagi dilain kesempatan, di lomba yang pastinya berbeda, dan lebih sesuai dengan tema dari naskah itu sendiri. Dan buat kalian para penulis yang mempunyai kegemaran mengikuti lomba menulis sepertiku, Semangat yaa! Jangan pernah putus asa jikalau naskah belum terpilih. Masih banyak kesempatan, kok! Seperti yang kuceritakan diatas :)

Wednesday, July 10, 2013

Semangat dan Inspirasiku

Semangat dan Inspirasiku
(Winda Aulia Saad)

Namaku Aulia. Aku lahir 18 tahun yang lalu di kota Dili, Timor Timur (Timor Leste) pada tanggal 19 Februari 1995, yang juga tepat pada hari ke-19 puasa Ramadhan kala itu. Dan disaat usiaku 4 tahun, konflik yang saat itu tengah memanas di Timor Timur pun mengharuskan kami untuk pindah ke kota Makassar, Sulawesi Selatan, dan menetap di kota tersebut hingga saat ini.

Sebenarnya, sejak kecil hingga usia 12 tahun, aku mempunyai nama sapaan Indah. Tapi nama itu akhirnya diganti karena sebuah penyakit langka yang aku derita sejak usiaku menginjak 12 tahun, sampai sekarang. Penyakit ini pun mengharuskanku untuk belajar di rumah setelah lulus dari Sekolah Dasar beberapa tahun yang lalu.

Tapi aku tidak menyerah. Walau pergerakanku semakin terbatas, karena secara perlahan semua persendianku diserang kekakuan, tapi aku sangat bersyukur masih bisa melakukan banyak hal. Aku masih bisa menulis, dan berkarya. Aku juga masih bisa berteman, dan juga memberikan semangat dan motivasi untuk mereka.

Bicara soal semangat. Ada satu orang yang selama ini selalu memberiku semangat. Seorang itu bagiku sangat baik, rendah hati, cantik dan penuh kasih sayang. Orang itu tidak lain adalah Mamaku. Sejak Papaku meninggal saat umurku masih 6 tahun, hanya Mamalah yang selama ini selalu memberiku semangat untuk tetap berpikir positif dalam melakukan hal apapun yang masih bisa kulakukan. Mama juga selalu mendukung karya-karyaku, dan menjadi penyemangat disaat aku mulai terbawa oleh kondisiku, dan mulai merasa putus asa.

Selain Mama, ada cukup banyak orang di dunia ini yang telah menjadi inspirasiku. Ada orang dewasa, yang pastinya sudah mempunyai banyak pengalaman dalam hidupnya, hingga anak-anak kecil yang usianya jauh lebih muda dariku. Sebenarnya, masih banyak orang yang keadaannya bahkan mungkin lebih parah, namun semangat hidupnya tak kalah dari orang-orang normal dan sehat lainnya. Bahkan mungkin melebihi. Dan hal itulah yang membuat mereka sering disebut sebagai seseorang yang istimewa, atau anak yang istimewa.

Aku juga sering berpikir, apakah aku bisa seperti mereka? Orang-orang yang menjadikan semangat dan motivasi sebagai prinsip hidup? Mungkin saja. Aku pun akan berusaha agar kelak aku bisa membahagiakan Orangtua dan keluargaku.

Berbicara tentang anak yang istimewa, ada salah seorang anak yang bagiku sudah menjadi inspirasi dan motivasiku sejak beberapa tahun yang lalu. Aku sendiri sebenarnya belum pernah bertemu langsung dengan anak ini. Tapi ada suatu saat yang membuatku menjadikannya sebagai sosok inspirasi. Namanya Dewa. lengkapnya, Dewantara Soepardi.

Dewa lahir di Jakarta pada tanggal 21 Maret 2003. Dia terlahir prematur, dan kemudian didiagnosa mengidap sebuah penyakit bernama brain injured (Cerebral Palsy tipe quadriplegia). Sejak pertama kali melihatnya, waktu itu dalam sebuah acara anak-anak di televisi, aku sudah tertarik dengan kehidupan yang dialaminya. Saat itu usianya kira-kira baru menginjak 7 atau 8 tahun.

Menurutku, Dewa anak yang cerdas. Meskipun saat itu ia belum dapat berbicara, namun ia tetap dapat berkomunikasi walau hanya dengan bantuan sebuah alat yang berisikan huruf-huruf dan angka. Ia tinggal menunjuk satu demi satu huruf yang akan digabungkan menjadi satu kata maupun kalimat.
Cerebral Palsy. Nama penyakit ini memang sudah tak asing lagi bagiku. Aku mengetahui jenis penyakit tersebut melalui sebuah koran yang tak sengaja terbaca oleh Mamaku di kantornya, lalu kemudian diperlihatkannya padaku. Kata pertama yang kuucapkan setelah membaca sekilas tentang penyakit itu adalah “Apakah aku juga pengidap Cerebral Palsy?”. Namun tak ada yang mampu membuktikannya.
Setelah vonis kanker otot, dan pengapuran otot yang dinyatakan dokter padaku, rasanya aku sudah tidak mau ambil pusing lagi tentang penyakit apapun yang sedang merajalela ditubuhku ini. Biarlah aku hidup apa adanya, dengan semangat dan kasih sayang dari orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku juga apa adanya. Itupun sudah membuatku sangat bersyukur hidup di dunia ini dengan keadaan apapun yang diberikan Allah. Bagaimanapun keadaanku sekarang, itu semua adalah anugerah dariNya. Pastinya tetap harus kujalani dengan penuh rasa syukur.

Aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan indahnya persahabatan. Bersekolah di sekolah formal yang semuanya berisi anak-anak normal, bagiku penuh dengan rintangan. Terkadang ada yang melihatku dengan wajah heran dan bingung, sampai meledek kondisi fisikku yang tidak senormal mereka. Namun aku tetap bersyukur karena masih mendapat sahabat-sahabat baik yang menyenangkan. Mereka selalu menyayangi, dan menerima apapun keadaanku.

Kembali lagi ke Dewa. Tak bisa dipungkiri, aku memang kagum padanya. Aku, yang diberikan kesempatan oleh Allah selama hampir 12 tahun untuk hidup layaknya anak-anak normal lainnya, bersekolah di sekolah formal bahkan favorit yang semuanya berisi anak-anak yang normal, bahkan masih merasa bukan apa-apa. Sedangkan Dewa, dia mempunyai banyak impian yang satu persatu berusaha ingin diubahnya menjadi nyata.

Setiap manusia pasti mempunyai impian dan cita-cita, bagaimanapun kondisinya. Termasuk aku. Aku juga punya impian, sama dengan yang lainnya. Cita-cita itu tak jauh dari hobiku yang gemar menulis. Bagiku, dengan menulis, kita bisa mengungkapkan perasaan, dan mencurahkan isi hati kita yang sebenarnya kepada orang lain. Buah pikiran itupun bisa menjadi sebuah karya yang nantinya bisa lebih memotivasi diri kita untuk lebih semangat lagi. Baik itu dalam kehidupan pribadi, maupun sosial.

Seperti yang lainnya, aku juga ingin semua impianku terwujud. Bagiku, untuk menjadi seorang yang istimewa ternyata bukanlah hal yang sulit. Salah satu kunci terbesarnya adalah, kita harus bersyukur dengan keadaan apapun yang diberikan Sang Pencipta. Kita harus yakin, bahwa Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang indah untuk kita. Jangan terpuruk, dan jangan menyerah, apalagi putus asa. Semua pasti akan ada hikmahnya. Teruslah berkarya, dan jadilah penerus bangsa!

***


Friday, July 5, 2013

Tentang Dia, Sahabat Kecilku


Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali

Sahabat kecilku
Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia

Tak ada satupun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya

Tiada... tiada lagi tawamu
Yang selalu menemani segala sedihku
Tiada... tiada lagi candamu
Yang selalu menghibur disaat ku lara

Bila malam tiba
Ku selalu mohonkan Tuhan
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi

(Gita Gutawa - Sahabat Kecilku)
*** 

Lagu yang menyentuh ... mengingatkanku pada seseorang, di masa kecilku ... :')

Usiaku saat itu baru menginjak 5 tahun. Setelah setahun sebelumnya aku dan keluargaku hijrah dari kota Dili (Timor Leste) ke kota Makassar, dan tinggal di rumah yang pertama (begitu aku menyebutnya), aku bersama Papa dan Mama pun pindah ke rumah yg baru. Di rumahku yg kedua ini aku berteman akrab dengan seorang anak laki-laki bernama ... hm, sebut saja dia Doni. Usianya masih sebaya denganku.

Sebenarnya pada saat itu Doni tinggal dan bersekolah di daerah lain. Berhubung karena kedua Orang tuanya tinggal di Makassar, maka diwaktu liburan sekolah dia pasti akan kembali ke Makassar untuk menghabiskan waktu liburannya. Dan disaat liburan itulah, aku mempunyai cukup banyak waktu bebas untuk bermain dengannya. Ditambah lagi dengan rumah kami yang berdekatan dan Orangtua kami yang akrab, membuat kami lebih bebas bermain bersama hingga malam hari.

Hingga pada suatu hari, sebuah kenyataan harus membuat kami berpisah. Artinya, aku tidak akan bisa bermain dengannya seperti dulu lagi. Setelah Papaku meninggal, aku dan Mama pindah ke rumah Nenek yang jaraknya cukup jauh dari rumah itu. Dan yang membuatku sedih adalah, disaat aku pindah itu Doni sedang tidak berada di Makassar, melainkan didaerah lain tempat ia bersekolah. Aku tak sempat pamit padanya.

Dia sahabatku. Mungkin saat itu kami tak pernah menyadarinya karena usia kami yang masih kecil, dan belum memahami arti persahabatan. Tapi yang kusadari saat ini, setelah hampir 12 tahun kami tak pernah saling bertemu, ataupun sekedar berbicara lewat telepon, Doni adalah salah satu teman terbaik yang pernah kumiliki dimasa kecil dulu.

Hanya satu pertanyaanku. Apa dia masih ingat denganku? Entahlah. Meskipun mungkin tidak, aku akan selalu ingat, dan menyimpan semua kenangan bersamanya ditempat yang indah. ^^

***

Wednesday, July 3, 2013

Aku dan Sepatuku

Aku dan Sepatu hitam karet bertali merah

Saat itu, sekitar tahun 2004. Aku masih duduk di kelas 3 SD. Usiaku kira-kira baru menginjak angka 9 tahun. Aku bersekolah di SDN Sudirman III. Salah satu SD Negeri favorit yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Jika berangkat dengan menaiki angkot, waktu yang diperlukan adalah 30 menit untuk sampai di sekolah tersebut.

Aku sangat senang dan bersyukur karena walaupun kondisi fisikku tidak senormal anak-anak seusiaku yang lain, aku tetap bisa diterima di sekolah formal yang umumnya berisi anak-anak normal yang tidak memiliki kelainan fisik seperti diriku. Ya, sejak kecil, aku memang sudah memiliki kelainan pada persendian di lutut kedua kakiku, dan juga leherku. Tapi aku sangat bersyukur karena sejak usia Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar, aku tetap bisa bersekolah di Sekolah umum, dan mempunyai banyak teman dan sahabat-sahabat yang menyayangiku, tidak pernah merasa risih dan mempermasalahkan keadaanku, dan selalu menerimaku apa adanya.

Kisah aku dan sepatuku ini berawal dari sepasang sepatu kesayanganku yang dibelikan Mama sejak aku kelas 3 SD dulu. Aku sangat menyukai sepatu itu, sampai-sampai pada saat pelajaran olahraga yang membuatku sangat aktif pun, aku memakainya karena terasa sangat nyaman dikakiku.

Sepatu itu memang bukanlah merk terkenal. Harganya pun tidak sampai beratus-ratus ribuan. Beralaskan karet mentah, berwarna hitam, dengan tali berwarna merah zig-zag yang modelnya sangat sederhana. Karena kondisi fisikku yang sejak kecil memiliki gerakan yang cukup terbatas, Mamaku pun selalu memilihkan aku sepatu yang beralaskan bahan karet mentah yang tidak licin sehingga tidak membuatku mudah jatuh karena kehilangan keseimbangan, ataupun terpeleset di sekolah. Salah satunya adalah sepatu hitam karet bertali merah yang kupakai saat duduk di kelas 3 dan 4 SD itu.

Suatu ketika, disaat Omku bersama Mama datang menjemputku dengan mengendarai motor, aku diharuskan untuk duduk di depan karena postur badanku yang gemuk tidak bisa duduk ditengah. Yang menariknya adalah, kaki kananku yang sejak kecil memang sudah tidak bisa dilipat tekuk, akhirnya terpaksa harus menginjak mesin motor yang luar biasa panasnya. Hari itu mungkin ada sekitar dua tempat yang disinggahi Omku hingga kami bertiga sampai di rumah.

Dan setibanya di rumah, aku pun terkejut melihat alas sebelah kanan sepatu kesayanganku yang meleleh karena panas dari mesin motor yang kupijak selama kurang lebih satu jam diperjalanan itu. Untung saja, melelehnya tidak sampai menembus kakiku, sehingga sepatu hitam karet bertali merah itu masih bisa kupakai ke sekolah di hari-hari berikutnya. Dan walaupun sedikit aneh rasanya jika berjalan dengan sepatuku, tapi aku berusaha untuk tidak mempedulikan kondisi itu. Bahkan, aku masih bisa berlari-larian dengan sepatu kesayanganku itu.

Saat itu, lariku memang tidaklah cepat seperti teman-temanku yang lain. Hal itu terjadi karena persendian di kedua lututku yang tidak lentur seperti anak-anak lainnya. Tapi aku senang karena masih bisa bermain dan berlarian bersama dengan teman dan sahabat-sahabatku, dan juga karena sepatu kesayanganku yang beralaskan karet dan tidak licin. Alas sebelah kanannya yang terlihat sudah meleleh karena mesin motor yang kupijak setiap kali aku naik motor, ternyata tidak pernah sekalipun membuatku merasa risih jika memakainya ke sekolah.

Sepatu itu memang bukan satu-satunya sepatu yang kumiliki saat kelas 4 SD. Namun yang lebih sering kupakai ke sekolah hanyalah sepatu hitam karet bertali merah itu. Aku memakainya hingga naik ke kelas 5 SD. Dan disaat sepatu itu sudah terasa sempit di kakiku, walau dengan berat hati, akhirnya sepatu kesayanganku itu pun disimpan, dan diganti dengan sepatu lainnya, ataupun dengan sepatu baru yang pastinya dengan alas yang berbahan karet.

Aku juga teringat disaat aku masih duduk di kelas 5 SD. Setahun setelah aku memiliki sepatu hitam karet bertali merah itu. Saat itu memang untuk pertama kalinya aku memakai sepatu yang tidak biasa kupakai ke sekolah. Alasnya tidak berbahan karet mentah, dan menggunakan tali yang harus diikat simpul. Tak biasa aku memakai sepatu itu. Namun karena keadaan yang memaksa, aku pun memakainya walau hanya beberapa hari.

Waktu itu aku bermain lari-larian bersama dengan teman-temanku di sekitar lapangan sekolah. Itu memang pertama kalinya aku menggunakan sepatu itu untuk berlari. Dan akhirnya, setelah beberapa menit berlarian kesana kemari, aku pun terjatuh disebabkan karena tali sepatu yang kuinjak. Aku mendapatkan luka di banyak tempat di tubuhku. Mulai dari lutut, kening, hingga dibawah hidungku pun berdarah karena luka tersebut.

Mulai dari saat itulah, Mama selalu memilihkan aku sepatu yang tidak bertali, dengan alas yang tidak licin. Mama tidak pernah mau membiarkanku memakai sepatu bertali, agar aku tetap bisa merasa nyaman menikmati hari-hariku di sekolah bersama dengan teman-temanku. Bisa berlari dengan bebasnya tanpa takut jatuh terpeleset. Aku pun bisa mengerti dengan kekhawatiran Mama yang selalu berusaha melakukan yang terbaik agar aku tetap bisa bermain dengan senang, dan tidak mudah jatuh lagi seperti kejadian waktu itu. 

Thank you Mom! I Love You :*
***


Tuesday, July 2, 2013

Hobiku Menulis Not Angka :)




My Notbooks
Aku gemar menulis not angka. Yap, mungkin kalian sudah tahu itu. Tapi, bagaimana caraku untuk menulis, mencari, dan menemukan not angka dari sebuah lagu? Dan bagaimana awalnya aku dapat ide untuk mempostingnya di blog? Hm.. bingung juga sih jelasinnya. Tapi aku akan menceritakan semuanya disini. Semoga bisa menjawab pikiran kalian yang bertanya-tanya tentang ini ya kawan! :)

Aku mulai gemar bermain pianika pada usia 11 tahun. Namun sebelum memegang pianika, aku hobi memainkan seruling, atau yang kini biasa disebut dengan recorder.

Disore hari, aku yang saat itu masih kelas 5 SD cukup sering memainkan serulingku di teras rumah. Duduk-duduk santai di kursi teras, atau hanya sekedar berbaring di lantai. Sambil melihat buku cetak KTK (Seni budaya) aku memainkan beberapa lagu nasional dan daerah dengan serulingku. Karena waktu itu aku belum terpikirkan untuk menulis not lagu, terkadang juga aku senang membuat tangga lagu melalui aplikasi musik di handphone. Tapi, itu hanya selingan saja, karena aku pusing melihat not-not balok yang banyak di aplikasi itu. Ribet juga, Hehe..
Musik pertama yang paling aku hafal disaat bermain seruling adalah :
sol mi mi, fa re re, do re mi fa sol sol sol … sol mi mi, fa re re, do mi sol sol do … re re re re re mi fa, mi mi mi mi mi fa sol …
sol mi mi, fa re re, do re mi fa sol sol sol … sol mi mi, fa re re, do mi sol sol do …

Yap, saat itu aku hanya hafal musiknya, tapi nggak pernah tahu lagu apa itu :D Omku yang mengajariku juga gak pernah kasih tahu itu lagu apa.. Dan belakangan aku ketahui, ternyata itu adalah musik dari sebuah lagu sunda yg judulnya "Abdi Boneka". Katanya sih, itu lagu lama. Aku juga baru tahu pas denger ka Raffi Ahmad nyanyiin lagu itu di YKS, hehe :D

Ini lirik lagunya :
"Abdi teh ayena, gaduh hiji boneka
Teu kinten saena, sarang lucuna
Ku abdi dierokan, erokna sae pisan
Cing mangga, tingali boneka abdi"

Yang Artinya:
"Saya tuh sekarang, punya sebuah boneka
Tak terkira bagusnya, juga lucunya
Saya pakaikan baju, bajunya bagus sekali
Silakan, dilihat boneka saya "

Selain musik itu, waktu masih belajar seruling aku juga suka mainin ini :
Do re mi, do mi do mi … mi, re fa fa mi re fa … mi, fa sol, mi sol mi sol … fa, sol la la sol fa la …
Sol, do re mi fa sol la … la, re mi fa sol la si … si, mi fa sol la si do …
Do si la, fa si sol do … do re mi fa sol la si do … sol do

Kenal lagu itu? Gampang kok! Tebak aja sendiri ya.. hehe, skali2 gitu ada tebakan dipostinganku :D

Okey, lanjut lagi, yaa! :)
Dan … setelah Mama membelikanku sebuah pianika, aku jadi lebih sering bermain musik. Itu rutinitasku setiap hari jika merasa bosan bermain sendirian di rumah. Dengan bermain pianika atau seruling di teras rumah, terkadang juga temanku suka datang dan menemaniku bermain musik.

Jika Omku (adiknya Mama) ada waktu luang, di masa-masa itu aku juga cukup sering bermain pianika dengan diiringi musik gitar darinya. Aku memainkan not dasar liriknya, sementara Omku itu mengiringinya dengan permainan gitarnya, dan kadang-kadang juga dia jadi vokalis dadakan :D Meskipun kadang nyambung kadang enggak, permainan musik itu terasa menyenangkan, karena kami bisa saling berbagi dan menyatukan sebuah lagu.

Mau tau, lagu pertama yang aku pelajari dengan pianika? Lagu yang selain lagu nasional dan lagu daerah yang sudah biasa aku mainkan dibuku KTK. Lagu yang menurutku paling gampang dihafal, yaitu lagu : Ungu - Andai Ku Tahu, lagu Gaby - Tinggal Kenangan, dan Repvblik – Hanya Ingin Kau Tahu. Ketiga lagu yang memang saat itu lagi hits-hitsnya.

Setahun kemudian, aku naik ke kelas 6 SD. Dan disitulah aku mulai aktif bermain musik di sekolah. Terkadang aku membawa seruling, kadang juga pianika ke sekolah. Dan pastinya, aku yang di kelas 6A juga ikut bermain pianika bersama teman-teman sekelasku, saat upacara bendera tiap dua minggu sekali. Karena tiap hari senin memang harus bergantian dengan teman-teman di kelas 6B.

Oh ya, setelah lulus SD, aku sempat berhenti bermain pianika selama beberapa bulan. Karena sudah lama tidak menggunakannya, pianika itu pun aku berikan pada seorang adik sepupuku yang saat itu masih kelas 6 SD. Kegemaranku akhirnya pindah haluan ke jalur seni lainnya yaitu “melukis”.

Dan disaat ulang tahunku yang ke-14, Mama memberiku kejutan dengan membelikanku sebuah Keyboard yang ukurannya cukup besar. Berkali-kali lipat dari pianika. Awalnya aku hanya ingin sebuah piano kecil seukuran pianika, yang menggunakan baterai karena aku capek jika harus meniup. Lagipula, harganya juga berkali-kali lipat dari pianika. Tapi, Mamaku mengerti dengan hobiku semasa SD dulu yang telah hilang. Ia pun tahu aku sangat ingin mempunyai keyboard, atau piano besar. Namun aku juga tak pernah mau membuatnya susah. Dan akhirnya, Mama tetap membelikanku keyboard itu. Terima kasih, Mama :*

Oiya, ada satu cerita lucu saat aku bosan bermain pianika karena capek meniupnya. Aku masih ingin memainkannya, tapi nafasku yang seakan tak ingin aku meniupnya.
Melihatku yang kecapean, Omku yang sering menemaniku bermain sambil dia juga memainkan gitarnya itu pun mempunyai ide dengan cara memasangkan balon diujung selang pianika tersebut. Hahaha … dan benar juga, pianika itu bisa berbunyi setelah Omku meniup balon gede-gede, lalu memasangnya di ujung selang pianika. Tapi akhirnya, Omku itu juga yang capek kehabisan nafas untuk meniup balon. :D

Nah! Setelah akhirnya bisa punya keyboard, mulai deh, aku hobi lagi bermain musik. Awalnya sih, aku hanya iseng menulis not angka lagu dibuku catatanku. Hanya sekedar nulis, supaya aku nggak lupa lagi sama notnya. Lagu pertama yang aku tulis notnya adalah lagu religi Ungu - Andai Ku Tahu, dan selanjutnya lagu religi Ungu yang lainnya. Hanya lagu-lagu yang kusuka, yang bagiku cukup mudah untuk dicari not angkanya.

Kalau ditanya cara untuk mencari not angka itu, aku juga bingung untuk jelasinnya. Tapi yang terpenting adalah, kita harus tahu dimana letak nada doremifasollasido-nya, termasuk juga yang tuts hitamnya (blacknot). Meski tanpa angka dimasing-masing tuts seperti di pianikaku dulu, aku sudah tahu dimana letak ke delapan nada-nada tersebut pada keyboard. Dan karena itu, sejak awal aku tak ingin mencoret angka pada tuts-tuts keyboard itu. Hanya menempelkan beberapa stiker kecil untuk menandakan dimana letak nada “do”, itu sudah cukup bagiku untuk siap mencari not angka lagu.


Jujur, aku belum mengerti dan belum bisa memainkan chord. Kenapa? Yaa karena kedua tanganku kaku, aku hanya bisa bermain piano dengan sebelah tanganku (lima jari). Kadang juga aku mencobanya, tapi susah hafalinnya. Karena itulah, aku tidak pernah menyertakan chord pada not-not angka yang aku tulis. Hanya menambahkan kunci nada dasarnya saja. Mungkin, itu sudah cukup untuk teman-teman yang masih pemula.

Sekitar 3 tahun yang lalu, kira-kira tahun 2010, aku dapat ide untuk me-scan catatan not lagu yg aku tulis itu. Dapatnya dari mana? Aku gak tahu juga, hehe.. Awalnya aku hanya iseng2 mencoba alat scanner printerku, lalu kulihat gambarnya dalam format jpg. Gambarnya bersih dan jelas, tulisanku juga lumayan bisa dibaca. Jadi aku coba untuk menguploadnya ke blogku yang isinya masih beberapa artikel catatanku. Dan ... Alhamdulillah, banyak juga yang suka karyaku. Malah lebih banyak yang request.

Meski not angka yang lagunya pertama kali aku tulis yaitu Ungu - Andai Ku Tahu, tapi postingan not angka yang pertama ku upload adalah 2 lagu Hijau Daun yg judulnya "Suara (Ku Berharap), dan Cobalah. Catatan not lagu itu berasal dari notbook ku yang kedua, setelah yg gambar Mickey Mouse ini.
<- Ini adalah notbook pertamaku, yang lagu-lagu awal hanya kutulis dengan menggunakan pensil agar lebih mudah dihapus jika ada yang salah. Barulah kemudian dipertengahan halaman aku menulis lagu dan notnya dengan menggunakan pulpen.

Dan sampai saat ini, sudah ada 13 notbook plus beberapa lembar kertas binder yang telah penuh dengan tulisan lagu dan catatan not lagu yang awalnya aku cari menggunakan pianika, lalu kemudian memakai keyboard. 

Entah hanya sekedar hobi atau pengusir rasa bosan, tapi aku merasa senang bisa melakukannya. Aku bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini. Meski dengan tangan yang kaku, aku masih bisa memegang pena dan menulis. Aku juga senang karena karyaku ini bisa membantu teman-teman yang terkendala saat mencari not angka lagu. Dan semoga, kedepannya aku bisa menjadi lebih baik lagi. Amiinn … allahumma amiinn … :)
 

Suara Hatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates