Monday, March 20, 2017

Komik Naya. (Cerna, Cerita Anak Penuh Warna, 2014)

Selain Ibu dan Ayah, ada juga event yang bertemakan cerita Anak. Cerpen yang aku buat ini juga sebenarnya berasal dari kisah nyata saat aku masih SD dulu. Hanya nama para tokoh dan beberapa kejadian yang memang sengaja aku ubah agar ceritanya lebih menarik untuk dibaca. :D

Hasil gambar untuk cover buku cerna ocha thalib
Namanya Typo :'(

Komik Naya
“Pagi semua! Apa kabar?” sapa Rana, sambil melangkah memasuki ruangan kelas lima dengan wajah ceria.
“Hai, Ran! Kabar baik. Tapi …” Tifah menoleh ke belakang. Raut wajah Naya terlihat murung. Rana pun segera duduk disamping sahabatnya itu.
“Naya, kamu lagi ada masalah ya? Cerita doong!” desak Rana, yang berniat ingin membantu. Namun, sikap dan raut wajah Naya tak kunjung berubah.
Mungkin, Naya butuh waktu untuk cerita.” batin Rana, lalu membuka tasnya dan mengambil buku pelajaran untuk dibaca.
Tak lama kemudian, Fanya dan Riska yang juga sahabat Rana memasuki kelas. Ketiganya pun asyik bercengkrama hingga wali kelas masuk dan memulai pelajaran.
“Tifah, kamu kan datang di sekolah lebih dulu dari aku. Pasti kamu tahu kan, kenapa sejak tadi Naya cemberut kayak gitu? Riska dan Fanya juga tidak akrab dengan Naya seperti biasanya. Apa mereka bertiga sedang bertengkar?” tanya Rana penasaran. Tifah pun mulai menjelaskan masalah yang sebenarnya.
“Iya, Ran. Itu karena komik terbaru Naya dirusak Fanya dan Riska.” jelas Tifah.
“Lho? Kenapa bisa begitu, Fah?”
“Naya belum mau meminjamkannya, karena ia sendiri belum selesai membaca komik itu.” lanjut Tifah. “Riska dan Fanya saling memperebutkan komik itu, sampai akhirnya sampul depannya jadi sobek.”
Setelah tahu permasalahannya, Rana mencoba sesekali menghibur Naya, juga mencoba membujuk Naya agar mau memaafkan Riska dan Fanya.
Setelah kurang lebih 2 jam belajar didalam kelas, bel tanda waktu istirahat pun berbunyi. Semua anak-anak kelas lima keluar dari kelas kecuali Rana, Naya, Riska dan Fanya. Riska dan Fanya pun mencoba mendekati Naya yang masih terlihat sedih.
“Naya… maafkan kami, ya! Karena tadi pagi sudah merusak komikmu.” ucap Fanya dengan terbata-bata. “Iya Nay. Kami berjanji, nanti akan menggantikan komikmu yang rusak itu.” sambung Riska.
Setelah sejenak berpikir, Naya pun mengangkat kepala. “Okey, aku maafkan kalian. Tapi, lain kali, jangan merebut dan merampas barang-barang milik orang lain sebelum diijinkan pemiliknya ya, itu namanya kalian lancang. Dan satu hal lagi, kalian tidak perlu kok, mengganti komikku.” kata Naya.
“Lho? Kenapa, Nay? Komikmu sobek, kan gara-gara kami.” ujar Fanya heran.
“Kan, yang sobek cuman sampul depannya doang. Tinggal diselotip, utuh lagi, kan?” Naya tersenyum dan merangkul kedua sahabatnya itu.
“Terima kasih ya Nay, karena sudah mau memaafkan kami. Sebagai permintaan maaf, ijinkan kami untuk memperbaiki komikmu yang rusak itu, ya!” ucap Riska dengan perasaan lega.
“Iya, tapi kalian juga harus berterima kasih kepada Rana, kalau bukan karena bujukan darinya, belum tentu sekarang aku mau memaafkan kalian.” kata Naya sambil melihat Rana yang tengah sibuk menghapus tulisan dipapan tulis.
Thanks ya, Ran. Kalau bukan bujukan dari kamu, mungkin sampai sekarang aku dan Nasya masih bertengkar dengan Naya.”
“Nah! Gitu dong, senyum. Jangan pada cemberut terus kayak tadi. Kita kan sahabat. Jangan saling bermusuhan dong! Iya nggak?” sahut Rana tersenyum.
Nasya mengangguk setuju. “Bener tuh, Ran! Mulai sekarang, kita nggak boleh musuhan lagi. Kalau ada kesalah-pahaman lagi seperti kejadian tadi, kita harus selesaikan pada saat itu juga. Bagaimana? Kalian setuju?”
Friska, Rana dan Naya mengangguk sependapat. “Eh, daripada di kelas terus, kita keluar yuk, sebelum bel masuk berbunyi!” ajak Rana kemudian berlari kecil menuju ke depan pintu kelas.
“Oh, iya ya! Kita ke kantin yuk! Nanti semuanya aku yang traktir deh!” sahut Naya.
“Kejadian hari ini membuatku menyadari arti persahabatan. Walaupun hanya sesaat, amarah yang kurasakan hari ini telah membuatku sadar akan pentingnya arti persahabatan yang kumiliki saat ini. Terima kasih, Tuhan! ” batin Naya, sambil tersenyum berjalan bersama Rana, Friska dan Nasya menyusuri koridor sekolah.
Pesan Moral :
“Nah! Gitu dong. Sahabat itu, harus saling memaafkan. Lebih baik jika kita tersenyum menyembunyikan masalah pribadi kita, daripada harus cemberut, dan membuat mereka bingung dengan sesuatu yang sama sekali mereka tidak tahu. Apalagi, kalau harus melampiaskan amarah kita kepada mereka, sahabat kita sendiri. Hal itu malah akan membuat kita kehilangan mereka…”
*** 

Bidadari Penyemangat Hidupku. (Ibu Dalam Memoriku, 2014)

Selain tentang Ayah, ada juga event yang membuatku senang. Segala ceritaku tentang sosok Mama, yang bagiku sangat kuat, tegar, penuh cinta dan kasih sayang. :* :)



Bidadari Penyemangat Hidupku

Mama, seorang bidadari cantik yang selalu menjadi penyemangat luar biasa dalam hidupku. Sosok yang sangat luar biasa tegar dalam menghadapi seberat apapun terjangan hidup di dunia ini. Aku terhanyut dalam kasih sayangnya yang begitu tulus ia curahkan, meski keadaanku berbeda dengan anak-anak lain. Mama bahkan tidak pernah marah disaat aku membuat kesalahan, kecuali disaat kemarahan itu aku sendiri yang memulainya.
Namun, amarah itu tidak pernah bertahan lama, karena Mama selalu memaafkanku. Bagiku, Mama seperti bidadari yang di utus Allah untuk hidupku. Aku merasa sangat bersyukur terlahir dari rahim seorang wanita yang kuat, tegar, dan penuh kasih sayang seperti Mama. Ia rela dengan sabar dan ikhlas membesarkanku seorang diri tanpa sosok seorang suami lagi di sisinya, sejak usiaku baru menginjak 6 tahun.
Aku sayang Mama. Ia bagai bidadari yang selalu melindungi dan memberiku semangat dalam hidup ini. Seorang ibu sekaligus ayah yang selalu berusaha memberikanku kebahagiaan, meski tanpa sosok seorang Papa lagi disisiku. Walau terkadang untuk membangkitkan semangat itu rasanya sangat sulit, aku merasa sangat bersyukur mempunyai Mama yang selalu hadir untuk memberiku semangat itu, dan selalu peduli dengan apapun keadaanku sekarang.
Sejak kecil fisikku memang sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Hingga pada saat usiaku 12 tahun, sebuah penyakit yang cukup serius menyerang nyaris seluruh otot dan persendianku. Dengan kata lain, aku tak dapat bergerak bebas seperti dulu lagi karena kekakuan otot.
Aku jadi teringat saat-saat awal penyakit ini mulai menyerang tubuhku. Sejak mengetahui penyakit yang ku derita, Mama tak pernah sedetikpun membiarkan aku terpuruk oleh keadaan fisikku yang semakin lama akan semakin terbatas. Justru Mama selalu memberiku semangat untuk melanjutkan hidup dan terus berkarya walau dengan kondisi fisik yang terbatas.
Di awal saat-saat yang sangat menyulitkan itu, hampir setiap malam aku merasa sedih dan tak kuasa membendung air mataku ketika harus membangunkan Mama di tengah malam hanya untuk membalikkan badanku yang kaku. Aku sempat merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia ini karena tak bisa melakukan apapun.
Namun, Mama sekalipun tidak pernah marah di setiap kali aku terpaksa harus membangunkannya di malam hari. Dia selalu mengerti dengan rasa sakit yang kurasakan pada saat itu. Aku tahu, Mama tidak akan pernah mau membiarkanku merasakan kesakitan itu terlalu lama. Walau dengan mata yang masih terasa berat untuk di bukanya, ia tetap berusaha untuk bangun dari tidurnya, segera membalikkan badanku dan mengatur posisi tidurku senyaman mungkin, sehingga aku dapat kembali tidur dengan nyenyak.
Kasih sayang Mama tidak bisa lagi kugambarkan, ataupun kuucapkan dengan kata-kata. Seribu atau bahkan sejuta kata pun tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayang itu. Bagiku, kasih sayang dan cinta Mama melebihi apapun dari semua itu. Bahkan sejak Papa meninggal 12 tahun silam, Mama selalu berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum hanya untukku. Ia tak pernah mau membuatku ikut terpuruk karena tidak ada lagi sosok seorang Papa di sisi kami. Aku sayang Mama, Aku cinta Mama, Selamanya …
***

Senyuman Terakhir Papa. (Ayah Dalam Memoriku, 2014)

Event menulis cerita tentang Ayah. Di buku ini aku menceritakan tentang sosok Papa yang masih dan akan selamanya kukenang dalam memoriku. :')




Senyuman Terakhir Papa
“Papa.”
Sebuah panggilan atau sebutan yang telah lama hilang dari hidupku. Bukan karena aku benci ataupun trauma dengan sebutan itu. Karena menurutku, aneh rasanya jika memanggil seseorang yang lain dengan sebutan itu.
Sosok yang berwibawa, pendiam, tegas, namun penuh kasih sayang. Dialah Papaku. Papa yang kukenal adalah Papa yang terbaik di dunia. Meskipun terkadang sibuk dengan pekerjaannya, dia tak pernah lelah mengajarkanku banyak hal tentang dunia dan sekitarku, mengajakku ke tempat-tempat yang menyenangkan, melindungiku dari bahaya, selalu berusaha membuatku tertawa dan merasa senang, serta membuatku terus merasa aman dan nyaman berada didekatnya.
Dia tak pernah bosan untuk membuatku merasa bahagia. Dia juga selalu mengajariku cara disiplin yang baik. Jika aku berbuat salah, dia selalu menegurku dengan cara yang baik agar aku tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Yang selalu mengantarku ke sekolah, mengajariku naik sepeda, dan memelukku disaat aku merasa sedih dan menangis.
Salah satu kejadian yang paling aku ingat, saat di mana kaki Papa harus berdarah hanya karena tergores kursi plastik saat ia berusaha untuk membangunkan aku yang masih ingin tertidur. Meski terluka dan tampak kesakitan, Papa berusaha tetap tersenyum agar aku tidak merasa bersalah padanya. Juga disaat aku dimarahi olehnya, lalu kemudian menangis dipelukannya.
Ada satu hal dalam diri Papa yang paling bisa membuatku tenang, yaitu senyumannya. Entah mengapa, senyumannya yang hangat itu selalu bisa membuatku merasa nyaman. Dan senyuman itu pun masih terbayang dan menempel dipikiranku hingga tak terasa 14 tahun berlalu aku hidup tanpanya ...
Sekitar 14 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001 saat usiaku baru menginjak 6 tahun. Papa dipanggil oleh Yang Maha Kuasa karena sebuah penyakit yang aku bahkan masih belum mengerti. Ia dirawat di Rumah Sakit hanya dua hari sebelum kepergiannya.
Aku bahkan masih ingat jelas pagi itu, sebelum aku berangkat ke rumah Nenek bersama seorang Tanteku. Dari arah dapur kulihat Papa tersenyum ceria kepadaku.
Namun tak pernah terbayangkan olehku bahwa saat itu merupakan saat terakhir kali melihat senyuman Papa yang begitu menggelitik hatiku, seolah mengatakan kalau ia baik-baik saja dan sangat sehat, seolah tak ada sedikitpun penyakit yang ia sembunyikan dibalik senyumannya itu.
Di siang harinya, aku yang saat itu berada di rumah Nenek mendapat kabar bahwa kondisi Papa sangat lemah dan dibawa Mama ke Rumah Sakit. Aku masih belum tahu dan mengerti separah apa kondisi Papa saat itu. Dan karena masih anak-anak, dalam dua hari itu aku hanya sempat dua kali diperbolehkan Dokter untuk bertemu dengannya, memeluknya, mencium pipinya, lalu berdoa didekatnya. Meskipun hanya sebentar tapi aku cukup senang bisa melihat Papa secara langsung.
Dua hari kemudian, akhirnya Papaku menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit itu. Hampir semua keluargaku merasa shock dan sedih dengan kepergiannya yang begitu tiba-tiba. Terlebih Mamaku, yang empat bulan sebelumnya telah kehilangan adik laki-lakiku tak lama setelah ia melahirkannya.
Apa yang aku rasakan saat itu? Entahlah, yang jelas aku tidak menangis saat melihat jenazah Papa yang sudah kaku. Bukan berarti hubunganku tidak dekat dengan Papa semasa hidupnya, karena bisa dibilang sejak kecil aku lebih dekat dengan Papa dan jadi kesayangan Papa. Aku pun hanya merasa heran, kenapa semua orang di rumah itu sedih dan menangis? Kenapa Papa tidak bergerak? Dan kenapa semua orang menatapku dengan wajah sedih?
Aku masih ingat pada saat aku tidak sengaja berceloteh untuk menghibur Mama yang masih terlihat sedih setelah kepergian Papa. Aku mengatakan bahwa sekarang Papa telah bahagia bersama adik di Surga-Nya. Papa menjaga adik di sana, dan Mama menjagaku di sini, di dunia ini. Setelah itu aku melihat Mama tampak terharu mendengarnya, dan ia berjanji agar tetap kuat dan tegar untukku.
Tak pernah kusangka, bahwa senyuman ceria yang aku lihat dua hari sebelumnya itu merupakan senyuman terakhir Papa, yang tak pernah sedetikpun aku lupakan bahkan hingga usiaku beranjak remaja dan dewasa.
Aku rindu saat-saat bahagia itu. Saat belajar naik sepeda bersama Papa keliling kompleks perumahan, saat Papa mengantarku ke sekolah, saat memotong rumput di belakang rumah bareng Papa, saat bercanda dan tertawa riang bersamanya. Mungkin tidak banyak, karena saat itu usiaku masih kecil. Namun aku tetap bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengenal sosoknya, merasakan hangatnya kasih sayangnya, memahami segala kebaikannya, serta menikmati semua yang pernah diajarkannya padaku.
Mengapa sebelumnya aku bilang Papaku adalah Papa terbaik di dunia? Itu karena aku hanya mengenalnya hingga usiaku 6 tahun, usia anak-anak yang mungkin belum terlalu paham arti dari kasih sayang itu sendiri.
Namun meski hanya 6 tahun, aku tetap merasa bersyukur karena setidaknya bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang begitu berarti dari sosok seorang Ayah yang sangat baik dan hangat seperti Papaku. Hingga saat ini pun aku masih ingat bagaimana wajah dan senyumannya bahkan tanpa melihat fotonya. Semua kenangan baik ataupun buruk yang pernah terjadi semakin terasa indah saat aku mengingat senyumannya yang ramah dan hangat itu.
Untuk itu, hargailah sosok seorang Papa atau Ayah. Bersyukurlah jika masih bisa menikmati lebih banyak waktu bersamanya. Meskipun tumbuh tanpa sosoknya, bukan berarti aku tak paham dan mengerti arti sosok seorang Ayah yang sesungguhnya. Bahkan sejak kecil, setiap kali aku merasa telah menemukan sosok pengganti Papa dalam diri orang lain, tetap saja kasih sayangnya terasa berbeda.
Dari keadaan yang aku lihat selama ini, baik itu dari drama atau film yang pernah aku tonton yang bertemakan sosok seorang Ayah. Mungkin seorang anak cukup sering merasa kesal dan sedih jika melihat seorang Ayah yang tegas, terlebih lagi pada saat marah dan seolah membentak tanpa perasaan. Namun dibalik semua ketegasannya itu aku yakin ada rasa cinta dan kasih sayang yang begitu hangat dan tak bisa dikalahkan oleh pria manapun di dunia ini.
I Love You Papa .... And I Miss You ... :)
***

Sunday, March 19, 2017

Kenangan Indah bersama Sahabat Kecilku. (Moment Indahnya Kebersamaan, 2013)

Event tentang moment atau kenangan bersama seseorang yang bagiku untuk dilupakan. Nama disamarkan. xD





Kenangan Indah bersama Sahabat Kecilku

Aku punya cerita nih! Tentang seorang anak laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabatku sewaktu kami masih usia Taman Kanak-kanak (TK). Dia merupakan salah satu sahabat yang dulu selalu memberikan warna keceriaan dalam hidupku. Sebut saja namanya Doni. Usianya masih sebaya denganku. Dan walaupun sebenarnya saat itu dia tinggal dan bersekolah di daerah lain, tapi berhubung karena kedua Orangtuanya tinggal di Makassar, maka disetiap liburan sekolah dia pasti akan kembali ke Makassar untuk menghabiskan waktu liburannya. Disaat liburan itulah, aku mempunyai cukup banyak waktu bebas untuk bermain dengannya.
Aku jadi teringat, pada saat aku dan Doni bermain rumah-rumahan disebuah mesin fotocopy yang sedang dalam keadaan rusak dan kosong (tanpa mesin). Walaupun harus rela berpanas-panasan, tapi kami senang karena tak ada seorangpun yang melarang kami untuk bermain di dalam mesin fotocopy itu. Hahaha, aku jadi suka cengengesan sendiri kalau ingat jaman-jaman itu.
Kenangan lainnya yang masih teringat adalah, disaat aku dan Doni tengah menikmati udara sore hari yang sejuk, sambil duduk disebuah tembok pembatas balkon dengan genteng atap lantai 2. Jadi, pada saat itu kami duduk di balkon lantai 3 rumah Doni. Disaat kami sedang bosan bermain, kami cukup sering duduk ditembok pembatas yang tidak terlalu tinggi itu. Aku dan Doni bisa lebih leluasa melihat pemandangan indah dari atas sana. Walaupun sebenarnya, jalanan di depan rumah pun tidak bisa terlihat karena terhalang genteng atap lantai 2 itu.
Aku masih ingat jelas pada saat itu. karena kebetulan ada mainanku yang jatuh diatas genteng atap lantai 2. Kami pun sempat kebingungan bagaimana cara mengambil mainan yang jatuh tepat disamping tembok pembatas balkon luar. Tiba-tiba, dengan sigap namun hati-hati Doni pun segera turun dan memijak genteng dengan perlahan (agar tidak jebol), dan mengambil mainanku tersebut. Aku sempat melarangnya turun, namun dia tidak mau mendengarku. Yah, terpaksa deh, aku hanya bisa bilang “Hati-hati, Don. Nanti jatuh!”. Yang dijawabnya hanya dengan anjukan jempol.
Setelah mengambil mainan, ternyata Doni masih penasaran dengan pemandangan jalanan di depan rumah kami dari atas rumahnya itu. Selama kami sering duduk di balkon itu, kami memang tidak pernah melihat keadaan jalanan dari atas. Ia pun mencoba untuk memijakkan kakinya dengan perlahan, mendaki beberapa bagian genteng yang kuat itu, dan mengintip ke bawah. Untung saja saat itu tidak ada yang melihatnya turun ke genteng lantai 2. Kalau saja ada, bisa habis dia dimarahin Bapaknya! Hahaha … Tak lama setelah itu, aku pun memerintah Doni untuk segera kembali naik ke balkon rumahnya.
Ada juga waktu kami main boneka-bonekaan. Tapi kali ini berbeda. Bonekanya bukan boneka biasanya yang terbuat dari bahan empuk seperti bantal dan berbulu halus. Justru itu yang membuatnya unik, sekaligus aneh! Yap, karena boneka yang kita mainkan saat itu adalah boneka yang terbuat dari kain sarung.
Boneka yang bagiku unik tersebut berasal dari sebuah kain sarung, dan dibentuk menyerupai boneka. Mempunyai dua tangan dan dua kaki, serta kepala. Kami menyebutnya “boneka adek-adek” Hahayy, lucunyaa… Kami juga sempat memakaikan boneka sarung itu dengan pakaian Doni waktu masih bayi. Kami menggendong, dan menimangnya seperti bayi kecil yang minta cucu. “Oee.. Oee.. Ooee…”
Hahaha … aku jadi cekikikan sendiri setiap mengingat kenangan itu. Doni memang sahabat pertamaku yang selalu dekat denganku saat itu. Apalagi mengingat rumah kami yang berdekatan. Jadi nggak susah jika ingin bermain. Aku, ataupun dia tinggal berjalan beberapa langkah keluar rumah, panggil nama, ketemuan deh!
Jadi begitulah ceritaku tentang persahabatan kecilku dengan Doni beberapa tahun yang lalu. Kini, aku dan Doni sudah 18 tahun, dan tak pernah bertemu lagi sejak Papaku meninggal, dan aku bersama Mama pindah ke rumah Nenek, dan tinggal disana hingga saat ini.
Tak pernah terlintas dipikiran kami. Ternyata, kebahagiaan yang hampir setiap saat kami rasakan saat itu tak berlangsung lama. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya. Kalau dibilang kangen sih, emang kangen. Terkadang juga aku merasa sedih. Tapi, apa dia juga masih ingat sama aku? Toh, waktu aku pergi, aku juga nggak sempat bilang apa-apa sama dia. Mungkin saja dia sudah melupakanku, tapi aku nggak akan pernah lupa sama dia, yang sejak saat itu sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Bersamanya, sahabat beserta kenangan yang special di masa kecilku yang indah.
(Doni : nama samaran)
***
BIODATA NARASI
Namaku Winda Aulia Saad. Biasa disapa Lia. Lahir di kota Dili, Timor Timur, 19 Februari 1995. Mulai menggemari dunia menulis sejak tahun 2009. HP : 081355868446. Alamat : Jln. Batua Raya lr. Mandengen III no 5. Senang bermain musik melodis dan Rubik’s Cube. Facebook : Aulia Indah Ompe’na Saad.
***

 

Suara Hatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates