Tuesday, January 7, 2014

Serunya Pesantren Kilat! xD

Haaiii! Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga selalu baik yaa :) buat yang sakit GWS, buat yang ultah HBD, dan buat yang galau SBR, sabar maksudnya... haha :D 

Kayaknya aku pengen curcol lagi nih, hmm kira2 ttg apa yah enaknya? Oiya, true story lagi deh.. buat kalian yg bosen itu masbuloh ya! Ini blognya capah? Hehe, #kiddingaja ^^,

Ini kisahku ttg pengalaman beberapa tahun lalu, saat pertama kalinya ikut pesantren kilat di sekolah. Saat itu aku masih SD sih, tapi gapapa lah, cerita aja. Yang mau baca Alhamdulillah, yang nggak mau baca … ya sudahlah :D

Waktu itu, kalo gak salah 3 hari sebelum liburan semester kelas 5. Setelah ujian, kami (aku dan teman2) dapat kabar dari guru kalau ada kegiatan pesantren kilat di sekolah yang diadakan selama dua hari. Yap, artinya kami harus melakukan kegiatan ibadah, belajar agama, sekaligus bermalam di sekolah.

Awalnya, aku sempat ragu untuk tinggal di sekolah dan ikut pesantren itu. Mama pun demikian. Memang sebenarnya kegiatan itu tidak wajib diikuti semua siswa, tapi untuk menambah nilai dan pengalaman, aku tetap ingin ikut.

Yang paling asyik saat itu adalah, waktu aku dan teman2 sibuk menata meja dan bangku menjadi tempat tidur. Kami juga sempat bermain dan tidur-tiduran dibawah meja guru, menarik-narik taplaknya hingga makanan diatas meja guru itu pun semuanya tumpah berantakan. Alhasil, kami ditegur oleh guru plus saling menyalahkan satu sama lain. Lalu pada akhirnya, harus bahu membahu membersihkan semua makanan yang berserakan itu.

Sore harinya, saat pulang sekolah Mama membawakanku pakaian dan selimut untuk alas tidur. Senang sekali rasanya ketika Mama mengizinkanku untuk ikut pesantren itu, meskipun syaratnya Mama harus menemaniku di sekolah. Aku mengerti, kondisi fisikku memang tidak seperti teman2 lain yang bisa mengurus diri mereka sendiri. Untuk ke toilet sekolah saja aku harus ditemani Mama. 

Meski begitu, aku tidak pernah sekalipun merasa malu kepada teman2ku. Mereka pun sudah mengerti keadaanku. Aku bersyukur bisa mengikuti kegiatan pesantren itu. (menambah pengalaman yang akhirnya bisa kuceritakan sekarang :D)

Esok harinya, pagi-pagi sekali aku dan teman2 memulai pelajaran agama. Bukan di kelas kami, tetapi di ruangan kelas sudirman I yang berada diseberang lapangan bangunan kelas kami, yakni sudirman III. Tidak seperti bangunan kelas sudirman III dan IV yang hanya dua lantai, kelas sudirman I dan II ini bangunannya sekitar 4 atau 5 lantai. Aku dan teman2 juga sempat bingung mencari ruangan yang dimaksud oleh guru pembimbing, sampai naik-turun tangga beberapa kali. Dan setelah menemukan ruangannya, kami segera masuk dan pelajaran yang membahas tentang agama islam (secara mendalam dan lebih jelas) pun dimulai dengan suasana tertib dan hening.
***

Setelah pelajaran pertama selesai, sekitar pukul 9 pagi kami disuruh turun ke aula untuk melaksanakan shalat dhuha. Saat itu aku juga sempat dag-dig-dug karena … yah, sekedar tahu saja, sejak kelas 3 SD sudah shalat duduk di kursi. Kenapa? Itu karena persendian dikedua lututku mengalami sedikit kekakuan. Sejak kecil, aku memang sudah terbiasa dengan keadaan ini. Dengan kaki kanan yang sangat sulit ditekuk. Barulah pada usia sekitar 9 tahun aku shalat dikursi, karena sebelum itu kaki kiriku masih bisa ditekuk (walaupun nggak rapat sampai kebelakang). Otomatis, aku nggak pernah bisa ngerasain jongkok normal seperti yang lainnya, ataupun duduk diatas kaki sendiri. Finally, aku enjoy enjoy aja tuh! Hehe :D

Okey? Back again to the story (ceilahh bahasanyaa).

Dengan keadaan seperti itu, mau tidak mau aku harus bergabung dengan teman2 yang shalatnya normal. Bagaimana aku menjelaskannya? Sumpah, saat itu aku hampir nangis karena kebingungan mencari alasan. Apalagi saat itu Mama belum datang, dan belum menjelaskan keadaanku yang sebenarnya pada guru pembimbing.

Pada akhirnya, aku mendapat ide. “Aku bilang saja kalau aku sudah shalat di rumah sebelum ke sekolah tadi.” Ups, sikap yang ini jangan ditiru ya, Sobat! Pada saat itu aku memang lagi bingung sebingung-bingungnya. Untung saja, guru tidak membuat itu menjadi masalah yang berarti (karena hanya shalat sunnah). Aku hanya bisa duduk melihat teman2ku, dan siswa-siswi lainnya melaksanakan shalat dhuha secara berjamaah di aula.

Beberapa jam sebelum tiba shalat dhuhur, Mama pun datang ke sekolah. Ia menemaniku shalat dhuha bersama teman2 yang lain di aula. Namun sebelum shalat, terlebih dulu Mama menjelaskan keadaanku pada guru yang saat itu mengajar kami. Waktu itu aku duduk dibarisan paling belakang anak perempuan bersama Mama disampingku. 

Jangan ditanya lagi jika banyak yang heran melihatku shalat sambil duduk dengan kaki selonjoran di lantai. Iya!! Mungkin bagi mereka itu aneh. Tapi aku cuek sajalah, yang penting kan masih bisa shalat. Mau posisinya berdiri, duduk, atau berbaring sekalian pun masih bisa shalat. Kalau berbaring saja masih nggak bisa shalat? mending dishalatin aja gih! Hihii *becandaa xD

Tapi emang bener kan? Kalimat itu cukup sering aku dengar di acara tausiyah atau ceramah di tv. Meski kedengarannya bercanda, tapi kenyataannya memang bener ._.

Oh ya, saat itu memang merupakan kali pertamaku shalat di sekolah. Selama 5 tahun itu aku memang sudah terbiasa shalat di rumah dulu sebelum berangkat sekolah, atau sepulang dari sekolah baru shalat.

Nah, setelah shalat dhuhur, kami kembali masuk kelas untuk belajar. Kadang juga saat belajar agama itu diselingi dengan nyanyian, agar aku dan teman2 lainnya tidak merasa bosan. Kebetulan, guru pembimbingnya juga baik dan ramah. Bahkan terkadang juga kocak dan bikin sakit perut gara2 dibikin ketawa terus, haha.. xD

Sore harinya, saat tiba waktu shalat ashar, seingatku Mama tidak lagi menemaniku shalat. Aku sudah lumayan berani shalat duduk diantara teman2ku yang berdiri. Aku berusaha menelan rasa maluku (bukan nama kota ya!) agar tetap bisa berbaur dengan mereka yang normal. Masa, setiap shalat bareng teman2 di aula aku harus ditemani Mama sih? Kan kasian juga Mamaku kalau harus menungguiku seharian di sekolah. Itung2 aku belajar mandiri, karena yang bisa mengatasi rasa malu itu hanyalah diri sendiri, bukan orang lain. :)

Shalat maghrib dan isya aku semakin berani. Bukan duduk dibelakang atau ditengah lagi, aku duduk dibarisan paling depan jamaah perempuan bersama dengan beberapa temanku. Ternyata, mengatasi rasa malu itu jauh lebih mudah jika kita mengerti bahwa orang2 disekitar kita juga sudah memahami keadaan kita yang sebenarnya. Jika masih ada yang melihatku dengan heran, ya aku cuek saja. Aku kan juga siswi yang ingin belajar agama agar menjadi seseorang yang lebih baik lagi, sama seperti mereka.

Setelah shalat, kami kembali ke kelas untuk bersiap-siap tidur, karena jam 3 pagi harus bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud bersama pak ustad di aula. Sekitar jam 9, aku dan teman2 masih belum tidur. Kami bermain, bercanda, mengobrol apa saja hingga satu persatu dari kami akhirnya tertidur ditempat masing-masing.

Namun, sampai lampu kelas dimatikan aku masih terjaga. Sulit sekali rasanya menutup mata dengan keadaan kelas seperti itu. Saat itu memang anak perempuan kelas 6A dan 6B (yang sejak kelas 1 gak pernah akur) disatukan. Sementara anak laki-laki 6A dan 6B juga disatukan di ruang kelas sebelah. Tak terbayangkan suasana kegaduhan yang terjadi di kelas kumpulan anak laki-laki itu.

Walaupun sebagian besar dari kami sudah tertidur pulas, tetap saja ada yang masih mengobrol. Meskipun ada Mama yang menemaniku tidur, aku hanya sempat tertidur beberapa menit. Setelah terbangun, nggak bisa tidur lagi -_-

Tiba saat jam 3 pagi, kami pun dibangunkan untuk bersiap-siap melaksanakan shalat tahajjud bersama di aula sekolah. Jarak ruang kelas kami dengan aula cukup jauh, dan kami pun tak berani kesana sendirian.

Saat kami shalat tahajjud, Mamaku tidak ikut shalat. Aku duduk ditengah shaf bersama teman2ku. Setelah shalat, kami mendengarkan ceramah dari pak ustad. Disitulah, seluruh siswa dan siswi dibuat menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa, tausiyah itu membuat hati kami semua tergerak lalu kemudian menangis termewek-mewek. Termasuk aku, dan Mama pun juga menangis. :’(

Tak lama setelah itu, tiba waktu subuh. Kami shalat subuh berjamaah, dzikir bersama, lalu kembali lagi ke kelas untuk bersiap pulang. Banyak diantara kami yang masih capek dan mengantuk karena tidak tidur, atau kurang tidur.

Dan sepulangnya dari sekolah, aku dan Mama pun langsung merebahkan diri di kasur, dan tidur dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore :O Hmm … lama juga yah? Hehe, maklum, tidurnya cuma beberapa menit sih, malah gak nyampe setengah jam .__.v

Begitulah kisahku tentang … ya, pesantren kilat itu. Memang sih cuma beberapa hari, dan mungkin bagi sebagian dari kalian itu nggak penting buat dibahas. Aku hanya ingin bercerita. Semoga dari kisahku ini ada inspirasi atau motivasi yang bisa kalian ambil :)

Tapi yang terpenting; ambil sisi positifnya saja, ya! Jangan yang negatif! :D

*See you in the next my true story! Semoga bermanfaat! Yukk dadah bye bye! ^_^”

Saturday, January 4, 2014

Suara Hatiku, Untuknya ...


(Song by : Armada – Apa Kabar Sayang)

“Seharian aku tak tenang.. seperti orang kebingungan..
pikiranku tak karuan.. khawatirkan, kamu disana...
Tak tahu apa gerangan... 
mungkinkah disana.. kau rasa bahagia.. atau malah sebaliknya...”
***

Dear Alif ...
Bagaimana kabarmu disana?
Kuharap kau selalu dalam keadaan baik-baik saja

Aku jadi teringat, tepat 13 tahun yang lalu, saat aku baru tersadar dari lelapku
Aku melihatmu digendong oleh seorang nenekku, di rumah, yang aku tak paham suasana apa yang terjadi pada saat itu
Aku menghampirimu, yang kukira masih terlelap nyaman dipangkuan nenek
Aku tersenyum menyambutmu, namun raut wajah nenek yang menyambutku terlihat sebaliknya
Aku duduk terpaku dihadapan nenek yang sedang menggendongmu
Aku pun bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa engkau ditutupi kain?”
Dan ketika itu juga, kudengar nenek berkata padaku, “Adikmu telah meninggal, Nak.”
Aku terpaku. Jelas saja, saat itu kau sudah tak bernafas lagi
Aku yang awalnya ingin melihatmu, menciummu, membelaimu, hanya bisa duduk diam memandang tubuh mungilmu terbungkus kain putih

Dear Alif ...
Kau tahu yang kurasakan saat itu?
Hatiku menjerit, bertanya “mengapa, mengapa, dan mengapa?”
Rasanya ingin menangis, namun tak bisa
Mungkin, karena usiaku saat itu belum memahami apa yang terjadi padamu

Namun kini, aku paham
Meski tak bisa merasakan hidup bersamamu,
namun aku bisa berbagi hatiku denganmu
Hati, yang siapapun tak akan bisa mengisinya selain dirimu :)
  
"Tlah lama kita.. tidak bertemu
Tak pernah ku dengar.. berita tentangmu
Apa kabar kamu, sayang.. apa kabar kamu, sayang..."

Dear Alif ...
Sedang apa kau diatas sana?
Apakah kau juga melihatku disini?
dengan sejuta harapan ingin berjumpa dan memelukmu erat
Kuharap kau selalu tenang disana
Bersama malaikat yang akan selalu setia menjagamu

Dear Alif ...
Selamat ulang tahun
Kakak rindu padamu
Kakak hanya bisa mengirimkan doa,
Semoga adik selalu bahagia didalam pelukan-Nya
Dan semoga, suatu saat waktu bisa mempertemukan kita kembali, di alam yang berbeda :’)
***

“Aku kan terus.. mendoakanmu
Walau tak ku dengar.. berita tentangmu
Apa kabar kamu, sayang.. apa kabar kamu, sayang.. di sana...”

(04 Januari 2013)
 
Untuk Adikku ...
Alfian Alif Saad :*

Thursday, January 2, 2014

I Miss You, Papa :')

Pikiranku kembali melayang. Terbang mundur menuju tanggal 31 Desember tahun 2001. Yap, 13 tahun yang lalu, tepat pada malam tahun baru. Tahun baru yang tanpa kusadari merupakan tahun baru terakhirku bersamanya, Papa.

Mungkin tak banyak kenangan yang kuingat pada saat itu. Yang jelas, aku merasa sangat bahagia merayakan malam pergantian tahun itu bersama Papa. Aku lupa tempat yang pastinya dimana. Tapi yang masih kuingat saat itu, Papa mengajakku keluar naik motor dimalam yang dingin, beberapa jam sebelum tiba pukul 12 untuk membeli terompet. Jaraknya cukup jauh dari rumah, bahkan kami harus keluar Kompleks.

Dan, ada satu penyesalanku saat itu. Ya, hanya satu. Andai aku tahu ditahun-tahun berikutnya tidak akan bisa bersama Papa lagi, aku takkan menolaknya. Hidup memang nggak bisa ditebak. Entah mengapa, aku menolak ajakan Papa untuk merayakan malam tahun baru itu di pantai. Mungkin juga karena aku tak ingin Mama sendirian di rumah. Apalagi saat itu Mama sedang mengandung. Bahkan, adikku lahir 4 hari setelah tahun baru itu, meski ia singgah di dunia hanya sebentar saja, lalu pergi lagi. :’(

Pertengahan 2001, tepatnya pada bulan Mei. Papaku dipanggil oleh Sang Pencipta, karena sebuah penyakit yang terlambat diketahui. Hanya dua hari, waktu yang sangat singkat untuk mengetahui bahwa dirinya sakit, dan akhirnya pergi menyusul adikku tercinta.

Tapi sekarang, aku telah belajar untuk tidak menyesali hari itu. Sedih itu pasti jika mengingatnya kembali. Namun aku tetap bersyukur, karena setidaknya, kenangan itu masih ada dalam benakku, bahkan setelah 13 tahun berlalu.

I Miss You, Papa :’)
 

Suara Hatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates