Wednesday, October 21, 2015

Mudik (kedua) yang seru dan menyenangkan!

Hello Guys!



Kayaknya udah lama banget nih aku nggak posting cerita. Bukan karena aku lagi sibuk atau fokus pada kegiatan lain, tapi nggak tahu kenapa setahun terakhir ini aku agak kesulitan untuk nulis cerita2 baru lagi. Kayak nggak ada inspirasi atau semangat gitu. Palingan seringnya cuma nulis dibuku Diary ataupun not angka lagu.



Kalau not angka sih beda lagi ya ceritanya. Karena bagiku kalau mencari not angka itu  hanya berpikir dan mendengarkan musik, nada, serta liriknya aja, nggak perlu berpikir jauh seperti menulis cerita yang membuat kita lebih fokus pada tema, lokasi, dan alurnya.

Eitt, kayaknya ceritaku diatas beda deh sama judul postingan blog ini. Hehe, kalau gitu aku mulai aja ya ceritanya.



Beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri lalu, aku kembali berangkat ke kampung halaman, kali ini bersama Mama, Om, Tante, dan 4 orang adik sepupuku. Tapi berbeda dengan kampung yang kami kunjungi sehari setelah lebaran itu, kali ini lebih jauh lagi yaitu di daerah PolMas, Sulawesi Barat.



Ini juga merupakan kali pertama buat kami semua menginjakkan kaki di Polmas setelah hampir 10 tahun kita nggak pernah ke sana lagi. Di sana ada rumah Nenek dan juga rumah kedua adik sepupuku. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 6-7 jam dengan mengendarai mobil. Namun bagiku, perjalanan kali ini lebih seru dibanding waktu sehari setelah lebaran itu. Omku yang jadi pengemudinya juga enak dan seru diajak bercanda. Nggak bosen dan nggak bikin bete. Kapanpun kami bisa singgah tanpa harus memikirkan terlambat sampai atau apapun itu.



Kami start dari Makassar itu sekitar pukul 12.30 siang setelah shalat dhuhur, melalui Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, barulah kami sampai ditujuan pada pukul 19.30 malam. Hitung aja sendiri berapa jam kami diperjalanan. Cukup melelahkan, tapi seru juga. :D Kami menginap di rumah kedua sepupuku.



Oh ya, aku belum cerita kenapa kami ke sana lagi, padahal beberapa hari sebelumnya kami baru aja tiba dari Sidrap. Selain untuk mengunjungi rumah Om, Tante dan kedua adik sepupuku, kami juga mengunjungi rumah Nenek. Esok harinya, sekitar pukul 5 sore kami pun kembali lagi ke Makassar.



Nah, di perjalanan pulang itu bagiku yang seru. Setelah sebelumnya kami singgah sebentar di rumah Nenek di Pare Pare, perjalanan kami menuju Makassar kami pun singgah hampir disetiap kedai jualan yang berbeda. Makan gogos, beli jeruk, dan lain-lainnya. Tapi meski begitu kami sampai di Makassar tidak terlalu larut malam juga.



***



Terakhir kali aku ke PolMas kira-kira umurku masih sekitar 7 atau 8 tahun. Berarti sudah sekitar 12 atau 13 tahun berlalu.



Aku masih lumayan ingat sih waktu itu. Aku, bersama Mama, serta Om dan Tanteku (yang lain) berkunjung ke Polmas, dan kebetulan saat itu sudah musim durian, rambutan dan langsat. Di kebun Nenekku banyak sekali terdapat buah-buahan itu. Kami semua masuk ke dalamnya, dan makan bersama di sana.



Seingatku sih itu bukan seperti kebun yang biasanya, bahkan lebih mirip seperti hutan karena masih banyak sekali pepohonan yang tumbuh disekitarnya, dan menutupi sinar matahari darinya. Dan yang paling aku ingat saat itu adalah saat aku berceloteh dengan mulutku yang penuh durian. “Nanti duriannya dibawa pulang juga, ya!” xD



Maklumlah, anak umur segitu kalau ngomong nggak ada malu-malunya. Asal sembur aja. Otomatis apa yang kuucapkan saat itu membuat seluruh keluargaku tertawa termasuk juga Nenekku yang langsung menjawabnya dengan jawaban Iya dan Pasti.



Dan yang paling lekat dalam ingatanku selain kejadian lucu itu, adalah kejadian mengerikan setelah kami pulang dari Polmas malam itu, saat kami memutuskan untuk pulang sekitar pukul 10 malam. Dalam perjalanan dari Polmas menuju Makassar, kira-kira sekitar 1 atau 2 jam lagi kami masuk daerah Makassar, tiba-tiba mobil yang aku, Mama, Om dan Tanteku tumpangi itu masuk ke dalam area persawahan yang cukup dalam.



Peristiwa itu terjadi saat dinihari atau hampir subuh sekitar jam 4. Aku yang saat itu tertidur pulas langsung dikagetkan dengan suara Mama yang panik. Aku yang tidur di jok belakang mobil pun terjatuh dan langsung terduduk di bawah (belakang kursi Omku). Aku menangis dan berteriak hingga pada saat keadaan terasa aman, para warga sekitar pun membantu kami semua untuk keluar dari dalam mobil yang sudah masuk ke dalam area persawahan itu. Aku bahkan masih ingat saat menyentuh dinginnya air di sawah itu. Brrr, sampai-sampai membuatku menggigil meski sudah digendong dan dibawa ke seberang jalan bersama Mama dan Tanteku.



Kami sebenarnya masih beruntung karena Omku banting setir ke arah kanan yang membuat mobilnya masuk ke area sawah itu. Karena jika seandainya saat itu Omku banting setirnya ke arah kiri, mungkin kami akan menabrak rumah ataupun tiang listrik di jalanan itu. Bisa lebih parah lagi, kan?



Intinya, aku sangat bersyukur saat itu kami semua bisa selamat dan kembali melanjutkan perjalanan dengan mobil Omku yang berhasil ditarik dari area persawahan. Aku pun pastinya nggak berani tidur lagi setelah kejadian itu. Namun ditengah jalan, setelah memasuki daerah Makassar, karena terlihat ada gempulan asap yang keluar dari mesin dan lampu depan mobil, kami memutuskan untuk turun dan Omku menelpon mobil derek untuk menarik mobilnya hingga kami sampai di bengkel.



Sekitar pukul 7 pagi, barulah aku, Mama dan Tanteku sampai di rumah. Karena sebelumnya Omku membawa mobilnya ke bengkel, kami bertiga pun pulang ke rumah dengan menaiki angkot.



Sebenarnya ada beberapa hal yang aneh sebelum terjadinya kecelakaan itu. Ini menurut cerita dari Mama, Om dan Tanteku, karena aku lupa tentang ingatan saat itu, atau mungkin saat itu aku masih tertidur. Saat itu kebetulan kami singgah untuk beristirahat disebuah Kedai berangka 15. Entah kenapa Mamaku melihat wajah orang yang jualan di kedai 15 itu seperti bukan manusia, pokoknya seram gitu deh! Dan setelah Mama menceritakan hal ini pada Om dan Tanteku, ternyata mereka juga berpikiran yang sama.



Hiii ... Jadi merinding aku ceritainnya. Kalian jangan ikutan merinding juga yaa, hehehe xD



Setelah kurang lebih 12 tahun berlalu, anehnya aku masih ingat betul dengan kejadian itu.  Bagaimana keadaan malam itu, rasa dingin dan menggigilnya air di sawah itu. Aku yang saat itu masih anak-anak bahkan belum mengerti apa yang terjadi saat itu, setelah sebelum kejadian aku tertidur nyenyak di dalam mobil. Malahan setelah beberapa tahun berlalu justru aku baru memahami ingatan dari kejadian itu, yang menurutku akan selalu teringat dalam benakku setiap kali ikut melakukan perjalanan jauh.

0 comments:

Post a Comment

 

Suara Hatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates