Sunday, July 8, 2018

Peristiwa Unik Tak Terlupakan



Hidup adalah Anugerah. Sesulit dan sesakit apapun yang harus dijalani, tetap adalah anugerah. Aku pun merasa demikian. Walau terkadang apa yang telah kualami rasanya sangat sulit untuk diterima, aku tetap berusaha untuk merasa bersyukur terlahir ke dunia fana ini. Yaa, meskipun aku tahu ini sementara, tapi tetap harus kujalani dengan semangat dan optimis.

Aku memang tidak seperti kalian yang memiliki fisik normal dan sehat. Aku mempunyai kekurangan, yang mungkin jarang dimiliki anak-anak ataupun remaja seusiaku lainnya. Sejak kecil, aku memang sudah terlihat berbeda dengan teman-teman yang seusiaku. Terlihat jelas pada kondisi fisikku, serta otot dan persendianku yang tidak memiliki kelenturan yang berarti. Aku tidak bisa berenang, berlari cepat, dan melakukan berbagai jenis permainan yang begitu mudahnya dimainkan oleh teman-temanku. Tapi aku tidak pernah merasa berbeda. Meskipun tidak bisa berenang, bukan berarti aku tak bisa masuk kolam renang. Bermain Volley air bersama teman-teman dan sahabat-sahabatku meskipun hanya bisa diam ditempat, merupakan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Ada satu kisah, di saat aku mengikuti pelajaran olahraga berenang semasa masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku pernah nyaris tenggelam karena kakiku hampir terpeleset di dalam kolam 2 meter. Aku tidak mampu mengangkat kakiku. Bukan karena keram atau apa, tapi memang tidak bisa. Untung saja waktu itu aku berpegangan erat pada tali pembatas kolam 1 meter dengan kolam dewasa yang berkedalaman 2 meter lebih itu. tak ada yang melihat kesulitanku saat itu. Hanya seorang dari temanku yang menyadarinya, tapi dia tidak menolongku karena pada waktu itu ia jauh dari tempatku berdiri di dalam kolam tersebut. Benar-benar menegangkan! Aku tidak bisa membayangkan jika saat itu genggamanku terlepas dari tali pembatas itu. Mungkin saat itu juga aku akan “lewat”, mengingat karena aku memang tidak bisa berenang. -_-“


Aku jadi teringat disaat aku bersama dengan teman-teman dan guru-guru TK/TPA Masjid berwisata ke Tanjung Bayam (Makassar). Saat itu kami (Aku dan teman-teman) berenang dan bermain pasir dipinggir pantai. Mama dan Omku sempat beberapa kali menyewakanku sebuah ban renang, tapi tetap saja aku tidak bisa menggunakannya dengan baik. Karena tubuhku tidak memiliki kelenturan, aku tak mampu untuk mengangkat dan mengayunkan kakiku di dalam air. Mamaku pun mengerti dengan keadaanku. Bukan karena Mama tidak tahu keadaanku lantas dia menyewakanku ban renang. Tapi karena Mama tidak pernah mau membiarkanku merasa berbeda dengan teman-temanku yang lain. Akupun sangat mengerti itu, meskipun saat itu usiaku baru menginjak 8 atau 9 tahun.

Oh ya, ada sebuah kejadian lucu pada saat itu. Saking lucunya, aku bahkan tidak bisa melupakan kejadian ini. Yaitu disaat aku tengah asyik-asyiknya bermain pasir ditepi pantai bersama teman-temanku. Waktu itu semua keluargaku memang tengah bersantai di pondok sambil menikmati hidangan. Dan disaat ombak mulai datang, aku langsung jungkir balik dengan kaki diatas dan kepala dibawah. Hahaha.., Omku langsung menghampiri, menolong, dan menertawakanku yang penuh pasir. Ya, memang rambutku penuh dengan pasir pantai yang putih itu. Lantas, Omku pun segera membawaku ke tengah-tengah laut untuk membersihkan tubuhku yang bahkan sampai didalam bajuku pun dipenuhi pasir pantai. Aku hanya bisa pasrah dan terdiam, karena sebelumnya adalah hal paling konyol yang tak pernah kusangka akan terjadi pada saat itu. :D

Sebenarnya, tanpa kusadari, kejadian lucu yang kualami saat itu terjadi karena aku berbeda dengan anak-anak seusiaku lainnya yang bisa dengan mudah menjaga keseimbangan tubuhnya. Tapi aku tidak bisa. Aku menyadari hal itu, tapi entah mengapa aku menganggap semua itu lucu. Aku menganggap semua orang yang saat itu tertawa, tengah tertawa bersamaku, bukan menertawakan keadaanku yang malang karena rambutku yang panjang dan hitam serta wajahku dipenuhi dengan pasir. Mungkin karena saat itu aku masih anak-anak, belum mengerti apa itu perbedaan, dan belum memikirkan isi hati orang lain yang melihatku.

Semua kejadian yang dulu pernah aku alami, telah menjadi kenangan yang indah. Meskipun itu memalukan, menyakitkan, ataupun membahagiakan, semuanya terasa sangat sulit untuk dilupakan. Perbedaan yang ada pada diriku tidak pernah membuatku merasa terpuruk karena tidak bisa melakukan lebih banyak hal lain di dunia ini. Semasa SD, meskipun jarak Sekolahku hanya beberapa meter dari kawasan Mall, aku tidak pernah sekalipun ikut dengan teman-teman dan sahabatku ke sana. Bukannya karena aku takut, tapi aku tidak ingin membuat Orangtuaku khawatir karena aku tidak bisa menjaga diriku seperti anak-anak normal lainnya. Misalkan, aku tak bisa berlari cepat. Dan aku juga pastinya tak akan tega jika Orangtuaku khawatir mencariku.

Saat ini, aku memang merasa berbeda. Banyak hal yang dulu masih dapat dengan mudah aku lakukan, kini tak dapat kulakukan lagi. Harus dengan bantuan orang lain. Tapi aku tetap percaya dan yakin, bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semuanya sama di mata Allah SWT. Baik mempunyai kekurangan maupun kelebihan, tergantung orang tersebut yang menjalani kehidupannya. Baik itu dengan penuh rasa syukur, ataupun yang penuh dengan rasa putus asa. Terserah kita mau pilih yang mana. Yang jelas, semua manusia ingin segalanya yang terbaik dalam hidupnya. Maka dari itu, jangan pernah sia-siakan waktu yang diberikan Allah, karena hidup hanya sementara … :)

***


Friday, June 15, 2018

Peristiwa Unik Tak Terlupakan



Hidup adalah Anugerah. Sesulit dan sesakit apapun yang harus dijalani, tetap adalah anugerah. Aku pun merasa demikian. Walau terkadang apa yang telah kualami rasanya sangat sulit untuk diterima, aku tetap berusaha untuk merasa bersyukur terlahir ke dunia fana ini. Yaa, meskipun aku tahu ini sementara, tapi tetap harus kujalani dengan semangat dan optimis.

Aku memang tidak seperti kalian yang memiliki fisik normal dan sehat. Aku mempunyai kekurangan, yang mungkin jarang dimiliki anak-anak ataupun remaja seusiaku lainnya. Sejak kecil, aku memang sudah terlihat berbeda dengan teman-teman yang seusiaku. Terlihat jelas pada kondisi fisikku, serta otot dan persendianku yang tidak memiliki kelenturan yang berarti. Aku tidak bisa berenang, berlari cepat, dan melakukan berbagai jenis permainan yang begitu mudahnya dimainkan oleh teman-temanku. Tapi aku tidak pernah merasa berbeda. Meskipun tidak bisa berenang, bukan berarti aku tak bisa masuk kolam renang. Bermain Volley air bersama teman-teman dan sahabat-sahabatku meskipun hanya bisa diam ditempat, merupakan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Ada satu kisah, di saat aku mengikuti pelajaran olahraga berenang semasa masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku pernah nyaris tenggelam karena kakiku hampir terpeleset di dalam kolam 2 meter. Aku tidak mampu mengangkat kakiku. Bukan karena keram atau apa, tapi memang tidak bisa. Untung saja waktu itu aku berpegangan erat pada tali pembatas kolam 1 meter dengan kolam dewasa yang berkedalaman 2 meter lebih itu. tak ada yang melihat kesulitanku saat itu. Hanya seorang dari temanku yang menyadarinya, tapi dia tidak menolongku karena pada waktu itu ia jauh dari tempatku berdiri di dalam kolam tersebut. Benar-benar menegangkan! Aku tidak bisa membayangkan jika saat itu genggamanku terlepas dari tali pembatas itu. Mungkin saat itu juga aku akan “lewat”, mengingat karena aku memang tidak bisa berenang. -_-“

Aku jadi teringat disaat aku bersama dengan teman-teman dan guru-guru TK/TPA Masjid berwisata ke Tanjung Bayam (Makassar). Saat itu kami (Aku dan teman-teman) berenang dan bermain pasir dipinggir pantai. Mama dan Omku sempat beberapa kali menyewakanku sebuah ban renang, tapi tetap saja aku tidak bisa menggunakannya dengan baik. Karena tubuhku tidak memiliki kelenturan, aku tak mampu untuk mengangkat dan mengayunkan kakiku di dalam air. Mamaku pun mengerti dengan keadaanku. Bukan karena Mama tidak tahu keadaanku lantas dia menyewakanku ban renang. Tapi karena Mama tidak pernah mau membiarkanku merasa berbeda dengan teman-temanku yang lain. Akupun sangat mengerti itu, meskipun saat itu usiaku baru menginjak 8 atau 9 tahun.

Oh ya, ada sebuah kejadian lucu pada saat itu. Saking lucunya, aku bahkan tidak bisa melupakan kejadian ini. Yaitu disaat aku tengah asyik-asyiknya bermain pasir ditepi pantai bersama teman-temanku. Waktu itu semua keluargaku memang tengah bersantai di pondok sambil menikmati hidangan. Dan disaat ombak mulai datang, aku langsung jungkir balik dengan kaki diatas dan kepala dibawah. Hahaha.., Omku langsung menghampiri, menolong, dan menertawakanku yang penuh pasir. Ya, memang rambutku penuh dengan pasir pantai yang putih itu. Lantas, Omku pun segera membawaku ke tengah-tengah laut untuk membersihkan tubuhku yang bahkan sampai didalam bajuku pun dipenuhi pasir pantai. Aku hanya bisa pasrah dan terdiam, karena sebelumnya adalah hal paling konyol yang tak pernah kusangka akan terjadi pada saat itu. :D

Sebenarnya, tanpa kusadari, kejadian lucu yang kualami saat itu terjadi karena aku berbeda dengan anak-anak seusiaku lainnya yang bisa dengan mudah menjaga keseimbangan tubuhnya. Tapi aku tidak bisa. Aku menyadari hal itu, tapi entah mengapa aku menganggap semua itu lucu. Aku menganggap semua orang yang saat itu tertawa, tengah tertawa bersamaku, bukan menertawakan keadaanku yang malang karena rambutku yang panjang dan hitam serta wajahku dipenuhi dengan pasir. Mungkin karena saat itu aku masih anak-anak, belum mengerti apa itu perbedaan, dan belum memikirkan isi hati orang lain yang melihatku.

Semua kejadian yang dulu pernah aku alami, telah menjadi kenangan yang indah. Meskipun itu memalukan, menyakitkan, ataupun membahagiakan, semuanya terasa sangat sulit untuk dilupakan. Perbedaan yang ada pada diriku tidak pernah membuatku merasa terpuruk karena tidak bisa melakukan lebih banyak hal lain di dunia ini. Semasa SD, meskipun jarak Sekolahku hanya beberapa meter dari kawasan Mall, aku tidak pernah sekalipun ikut dengan teman-teman dan sahabatku ke sana. Bukannya karena aku takut, tapi aku tidak ingin membuat Orangtuaku khawatir karena aku tidak bisa menjaga diriku seperti anak-anak normal lainnya. Misalkan, aku tak bisa berlari cepat. Dan aku juga pastinya tak akan tega jika Orangtuaku khawatir mencariku.

Saat ini, aku memang merasa berbeda. Banyak hal yang dulu masih dapat dengan mudah aku lakukan, kini tak dapat kulakukan lagi. Harus dengan bantuan orang lain. Tapi aku tetap percaya dan yakin, bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semuanya sama di mata Allah SWT. Baik mempunyai kekurangan maupun kelebihan, tergantung orang tersebut yang menjalani kehidupannya. Baik itu dengan penuh rasa syukur, ataupun yang penuh dengan rasa putus asa. Terserah kita mau pilih yang mana. Yang jelas, semua manusia ingin segalanya yang terbaik dalam hidupnya. Maka dari itu, jangan pernah sia-siakan waktu yang diberikan Allah, karena hidup hanya sementara … :)

Tuesday, August 15, 2017

Arti dari : Aulia Indah Ompe’na Saad

Membaca judul postingan ini, mungkin beberapa diantara kalian sudah merasa akrab dengan nama itu. Ya, karena nama itu sudah kurang lebih 3 tahun aku gunakan sebagai nama Facebook-ku. Tepatnya sejak tahun 2011.


Aulia Indah Ompe’na Saad. Kalian tahu artinya?

Mungkin kalian sudah mengerti nama Aulia dan Saad. Namun bagaimana dengan Indah dan Ompe’na?
Nama Indah adalah sapaan akrabku sejak bayi, hingga usiaku menginjak 13 tahun. Nama kecil itu diambil dari Winda, yang akhirnya menjadi nama panggilanku saat mulai duduk di bangku sekolah. Keluarga dan teman-teman rumahku memanggilku Indah, sementara guru dan teman-teman di sekolah menyapaku Winda. Tentu saja, kedua nama itu tak pernah lepas dari masa-masa kecilku yang ceria dan juga indah. :))

Dan, kenapa sekarang sapaanku berubah menjadi Aulia. Ceritanya panjang, sepanjang jalan tol Cipularang ditambah jembatan Suramadu. Haha, lebay! -_-

Singkat cerita saja, ya! Nama panggilanku diganti dari Indah atau Winda menjadi Aulia itu karena sebuah penyakit, yang membuatku terpaksa harus rela nama itu diganti.

Tapi, tak apalah. Yang penting masih ‘punya nama’ kan? Daripada ‘tinggal nama’. Heheh.. Tapi terserah juga sih mereka masih mau panggil aku Indah, atau Aulia. Menurutku nggak masalah. Toh, orangnya aku juga, kan? ^_^

Dan … nama Ompe’na. Sebenarnya sih bukan itu ya, cukup Ompe’ aja. Kata ‘na’ itu kalau logat Makassar biasa diartikan dengan kata ‘nya’. Kalau aku pake Ompe’nya, menurutku agak aneh. Ini menurutku yaa :D

Ompe’, siapa dia? Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Papaku sendiri ^^ Nama itu adalah julukan Papa waktu masih kecil dulu, karena badannya gemuk dan pipinya chubby. Kurang lebih gemuknya kayak aku waktu jaman SD dulu, lah. Kalo sekarang sih udah kurusan -_- Waktu kecil dulu juga aku masih sering dipanggil Ompe’ sama Nenek setiap kali aku datang ke kampungnya Papa.


Dan setelah Papa meninggal pada tahun 2001 lalu, aku sering teringat nama itu. Saat berada di kampung pun, setiap kali ada yang menyebutku dengan nama itu pasti sudah tahu kalau aku anaknya Papa, meskipun dia udah nggak ada. :(

Haah … jangan mulai deh sedih"nya! Aku tahu Papa sudah tenang di alam sana bersama Adikku yang juga chubby :D Aku hanya ingin mengenangnya saja lewat nama itu.

Nah, sudah tahu kan siapa itu Ompe’? Nama yang mungkin bagi sebagian dari kalian nama yang ‘aneh’. Bukan nama sih, sebenarnya. Lebih tepatnya itu ‘julukan’.

Oke.. kalo gitu udah dulu yaa ceritanyaa! Lain kali lanjut lagi. See you! ;)
 

Suara Hatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates